AMPAS Gedor PT Garam, Petani Sampang Menjerit, Monopoli Lahan Dikecam

- Editorial Team

Selasa, 15 Juli 2025 - 13:36 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Ketua umum Aliansi Masyarakat dan Pemuda Sampang (AMPAS) Moh. Agus Efendi saat orasi di PT Garam Pangarengan Sampang, @by_News9.id

FOTO: Ketua umum Aliansi Masyarakat dan Pemuda Sampang (AMPAS) Moh. Agus Efendi saat orasi di PT Garam Pangarengan Sampang, @by_News9.id

SAMPANG, NEWS9 – Aksi protes meletup di Kabupaten Sampang, Madura, Selasa pagi (15/7).

Puluhan massa yang tergabung dalam Aliansi Masyarakat dan Pemuda Sampang (AMPAS) menggelar unjuk rasa di depan kantor operasional PT Garam di Kecamatan Pangarengan.

Mereka datang dengan satu seruan tegas, hentikan praktik monopoli lahan oleh PT Garam dan kembalikan hak petani garam lokal.

Pantauan News9.id, demonstrasi sempat memanas. Massa yang ingin menyampaikan aspirasi langsung ke pihak manajemen, ditolak masuk ke area kantor dan hanya diperbolehkan berada di pos penjagaan.

Adu argumen pun tak terhindarkan antara perwakilan AMPAS dan petugas keamanan internal perusahaan.

Meski demikian, orasi terus bergema. Poster-poster bertuliskan “Stop Monopoli Rakyat”, “Cabut Lahan PT Garam”, dan “Kembalikan Lahan Penggarap kepada Petani Sejati” mengiringi teriakan protes yang menggema di tengah panas terik.

Baca Juga:  Raport Merah Kasat Reskrim Polres Sampang

Ketua Umum AMPAS, Moh. Agus Efendi, dalam orasinya menyampaikan kritik tajam. Menurutnya, PT Garam tak lagi berpihak pada rakyat kecil.

“PT Garam kini bertindak layaknya tuan tanah zaman kolonial. Jika merasa bersih, kami tantang untuk sumpah mubahalah di depan umum,” ujar Agus dengan nada lantang.

AMPAS menilai sistem pengelolaan lahan dan distribusi sewa yang dijalankan PT Garam tidak mencerminkan prinsip keadilan agraria.

Mereka menuduh perusahaan pelat merah ini lebih mengutamakan keuntungan segelintir pihak dibanding nasib ribuan petani garam lokal yang menggantungkan hidup dari lahan tersebut.

Dalam rilis resminya, AMPAS juga membongkar dugaan keterlibatan elite lokal dalam praktik monopoli terselubung.

Baca Juga:  Khirata Foundation Gelar Kenduri Manis, Bentengi Anak dari Narkoba

Mereka menyebut beberapa pengelola lahan hanyalah perpanjangan tangan dari aktor-aktor besar yang memiliki kedekatan kekeluargaan, memperkuat dugaan adanya praktik yang melanggar prinsip persaingan sehat.

Tak hanya itu, AMPAS juga menyoroti indikasi kejanggalan dalam tender pengadaan geomembran senilai Rp436 juta.

Dua penawaran perusahaan diklaim hanya berselisih ratusan ribu rupiah, angka yang dinilai terlalu kecil dan membuka dugaan rekayasa lelang.

AMPAS pun mendesak audit menyeluruh terhadap PT Garam, khususnya dalam pelaksanaan tender serta penyaluran dana CSR yang hingga kini dinilai tertutup dan tidak transparan.

“Garam adalah komoditas strategis nasional. Tidak bisa dikelola sembarangan, apalagi dengan praktik yang menyakiti petani,” tegas mahbul salah satu orator.

Dalam pernyataan tertulis, AMPAS mengajukan empat tuntutan utama:

Baca Juga:  Penuh Keakraban, GAWAT Tambelangan Gelar Kongkow untuk Pererat Solidaritas

1. Pengembalian pengelolaan lahan kepada petani lokal,

2. Transparansi proses sewa lahan dan dana CSR,

3. Penghentian praktik monopoli,

4. Evaluasi total terhadap aktivitas PT Garam di wilayah Sampang.

AMPAS juga menyerukan implementasi Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 tentang Larangan Monopoli dan UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Hingga berita ini terbit, pihak PT Garam belum memberikan pernyataan resmi, meski upaya konfirmasi terus dilakukan oleh News9.id

Perlu diketahui aksi AMPAS yang berlangsung damai sejak pukul 10.00 WIB ini ditutup dengan peringatan keras, jika tidak ada tanggapan konkret dari PT Garam maupun pemerintah, mereka siap kembali turun ke jalan dalam jumlah lebih besar. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Bupati dan Wakil Bupati Madiun Turun Langsung Bersihkan Sampah, Program SELAMAT ASRI Diperkuat Menuju Adipura 2026
IMI Desak Evaluasi Satgas dan Transparansi PKKMB
Rakornas V Forum Dewan Pendidikan di Garut, Hasan Rohmad Dorong Reformasi Pendidikan yang Berpihak pada Realitas Daerah
Dukung Produktivitas Petani, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Madiun Salurkan Bantuan Alsintan, Bibit Alpukat dan Benih Padi
IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji
Warga Langsar Laok Mulai Krisis Air Bersih, Bupati Fauzi Turun Tangan
Trotoar dan Bahu Jalan Jadi Lapak PKL, Tata Kota Sumenep yang Gagal Menata
BLT-DD Desa Kranggan Disalurkan kepada 15 Keluarga Penerima Manfaat
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:19 WIB

Bupati dan Wakil Bupati Madiun Turun Langsung Bersihkan Sampah, Program SELAMAT ASRI Diperkuat Menuju Adipura 2026

Kamis, 15 Oktober 2026 - 07:45 WIB

IMI Desak Evaluasi Satgas dan Transparansi PKKMB

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:11 WIB

Dukung Produktivitas Petani, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Madiun Salurkan Bantuan Alsintan, Bibit Alpukat dan Benih Padi

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:33 WIB

IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Warga Langsar Laok Mulai Krisis Air Bersih, Bupati Fauzi Turun Tangan

Berita Terbaru

FOTO: Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP., (tengah) saat menghadiri kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). @by_News9.id

PEMERINTAHAN

Perisai Anak Jadi Andalan Diskominfo Jatim

Kamis, 15 Okt 2026 - 18:07 WIB

FOTO: IMI dalam Aksi Demonstrasi di Universitas PGRI Sumenep. @by_News9.id

DAERAH

IMI Desak Evaluasi Satgas dan Transparansi PKKMB

Kamis, 15 Okt 2026 - 07:45 WIB