Batik Lokal Dikubur Hidup-Hidup, Diskop UKM Sumenep Dituding Khianati Perintah Bupati

- Editorial Team

Kamis, 12 Februari 2026 - 13:23 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat, saat menggelar aksi di depan kantor Dinas Koperasi. @by_News9.id

FOTO: Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat, saat menggelar aksi di depan kantor Dinas Koperasi. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Aroma dugaan pengkhianatan terhadap pelaku usaha mikro kecil (UMK) batik di Kabupaten Sumenep menyeruak ke ruang publik.

Koordinator Gerakan Mahasiswa Peduli Rakyat, Moh Asmuni, melontarkan kritik keras terhadap Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindag Sumenep yang dinilai tidak berpihak pada produsen batik lokal.

Asmuni menegaskan, korupsi dan penyimpangan kebijakan adalah musuh bersama yang bisa meruntuhkan sistem pemerintahan.

Karena itu, seluruh elemen masyarakat diminta tidak tinggal diam ketika program yang seharusnya mengangkat ekonomi rakyat justru diduga menyimpang dari relnya.

“Pejabat publik semestinya bertindak sesuai harapan pelaku usaha mikro kecil, khususnya yang bergerak di bidang batik. Pemerintah daerah punya tanggung jawab menciptakan kesetaraan dan meningkatkan kesejahteraan ekonomi lokal,” tegasnya.

Asmuni menyoroti kebijakan sosialisasi program yang dilakukan Diskop UKM hingga ke tingkat bawah.

Baca Juga:  Satgas TMMD ke-123 Bangun Tugu Prasasti di Jembatan Dusun Tugu Desa Burno

Namun ironisnya, menurut dia, pelaku UMK batik yang benar-benar memproduksi justru tidak dilibatkan. Yang muncul dalam kegiatan itu justru pelaku usaha skala lebih besar.

“Artinya apa. Perintah Bupati agar seluruh usaha mikro kecil terakomodasi justru tidak dijalankan secara utuh. Ini bukan sekadar kelalaian, tapi bisa menjadi bentuk pengabaian terhadap ekonomi rakyat kecil,” sentilnya.

Lebih jauh, Asmuni menduga adanya praktik yang tidak sehat dalam pengadaan barang kebutuhan pegawai.

Dia menyebut birokrasi terkesan menunggu anggaran cair untuk kemudian memborong produk tertentu, sementara produksi batik lokal tidak terserap maksimal.

“Kalau anggaran sudah tersedia, barang langsung diborong. Tapi siapa yang diuntungkan. Jangan sampai birokrasi berubah jadi makelar, bukan pelayan publik,” ujarnya tajam.

Yang paling disorot, dugaan pengambilan batik dari luar daerah untuk kebutuhan program seragam Aparatur Sipil Negara (ASN). Jika benar, kebijakan itu dinilai mencederai semangat pemberdayaan ekonomi lokal.

“Usaha mikro kecil hari ini seperti dikubur hidup-hidup. Produksi batik lokal yang seharusnya jadi kebanggaan justru tidak terserap. Program seragam ASN malah berujung pada produk yang tidak jelas asal-usulnya,” tegasnya.

Asmuni juga menyayangkan sikap Kepala Diskop UKM yang dinilai tidak responsif ketika pelaku UMK batik meminta audiensi bersama Bupati Sumenep.

“Ketika diminta menghadap bersama pelaku usaha kecil, responsnya tidak jelas. Seakan ada yang disembunyikan dari publik,” tandasnya.

Sementara itu, Kepala Dinas Koperasi, UKM dan Perindag Sumenep, Moh Romli, menyatakan bahwa pihaknya telah menjalankan tugas sesuai perintah Bupati Sumenep, termasuk dalam pelaksanaan sosialisasi kepada pelaku usaha mikro kecil.

“Kami bekerja sesuai arahan dan perintah Bupati,” singkatnya.

Kontroversi tersebut membuka pertanyaan besar, apakah program pemberdayaan batik benar-benar berpihak pada pengrajin lokal, atau justru menjadi ladang permainan kebijakan.

Baca Juga:  Upacara Penutupan TMMD ke-123 di Senduro, Dandim 0821/Lumajang dan Forkopimda Serahkan Berbagai Bantuan untuk Masyarakat

Sementara itu, publik kini menunggu transparansi dan keberanian Bupati Sumenep untuk meluruskan polemik yang berpotensi menggerus kepercayaan terhadap komitmen pemerintah daerah dalam membela ekonomi rakyat kecil. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Hasil UKW di Surabaya, 29 Wartawan Raih Predikat Kompeten
Bupati dan Wakil Bupati Madiun Turun Langsung Bersihkan Sampah, Program SELAMAT ASRI Diperkuat Menuju Adipura 2026
IMI Desak Evaluasi Satgas dan Transparansi PKKMB
Rakornas V Forum Dewan Pendidikan di Garut, Hasan Rohmad Dorong Reformasi Pendidikan yang Berpihak pada Realitas Daerah
Dukung Produktivitas Petani, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Madiun Salurkan Bantuan Alsintan, Bibit Alpukat dan Benih Padi
IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji
Warga Langsar Laok Mulai Krisis Air Bersih, Bupati Fauzi Turun Tangan
Trotoar dan Bahu Jalan Jadi Lapak PKL, Tata Kota Sumenep yang Gagal Menata
Berita ini 5 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 16 Oktober 2026 - 23:28 WIB

Hasil UKW di Surabaya, 29 Wartawan Raih Predikat Kompeten

Jumat, 16 Oktober 2026 - 20:19 WIB

Bupati dan Wakil Bupati Madiun Turun Langsung Bersihkan Sampah, Program SELAMAT ASRI Diperkuat Menuju Adipura 2026

Rabu, 14 Oktober 2026 - 19:14 WIB

Rakornas V Forum Dewan Pendidikan di Garut, Hasan Rohmad Dorong Reformasi Pendidikan yang Berpihak pada Realitas Daerah

Selasa, 13 Oktober 2026 - 22:11 WIB

Dukung Produktivitas Petani, Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Madiun Salurkan Bantuan Alsintan, Bibit Alpukat dan Benih Padi

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:33 WIB

IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji

Berita Terbaru

FOTO: Para peserta mengikuti pengujian sesuai jenjang kompetensi Muda, Madya, dan Utama. @by_News9.id

DAERAH

Hasil UKW di Surabaya, 29 Wartawan Raih Predikat Kompeten

Jumat, 16 Okt 2026 - 23:28 WIB

FOTO: Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Diskominfo) Provinsi Jawa Timur, Sherlita Ratna Dewi Agustin, S.Si., M.IP., (tengah) saat menghadiri kegiatan Uji Kompetensi Wartawan (UKW). @by_News9.id

PEMERINTAHAN

Perisai Anak Jadi Andalan Diskominfo Jatim

Kamis, 15 Okt 2026 - 18:07 WIB