BeritaOpini

Maafkan Chainur Rasyid

329
×

Maafkan Chainur Rasyid

Sebarkan artikel ini
Maafkan Chainur Rasyid
FOTO: (istimewa) Chainur Rasyid, calon Sekda yang kini menjabat Kepala DKPP Kabupaten Sumenep. @by_News9.id

OPININEWS9 – Maafkan aku, yang terlalu cepat menilai dari kulit yang tampak. Yang menyangka diam adalah lemah, merunduk adalah tanda kalah.

Padahal, di balik langkah pelan itu ada jiwa yang tak pernah gaduh meminta pengakuan.

Chainur Rasyid, sebuah nama yang berjalan tanpa panggung, tanpa lampu sorot, tanpa tepuk tangan yang riuh.

Ia memilih sunyi sebagai cara menjaga hati. Merendah bukan karena tak mampu berdiri tegak, melainkan karena tahu betapa tinggi langit tak bisa dijangkau kesombongan.

Loyal seribu persen, bukan kepada manusia semata, tetapi kepada amanah yang ia yakini akan ditanya di hadapan Tuhan Ilahi Rabbi.

Bagi mata yang hanya membaca permukaan, ia mungkin terlihat sederhana pejabat yang dianggap mudah digertak, mudah disela, mudah dipinggirkan.

Namun siapa yang tahu di balik ruang yang tak disorot kamera ia menyerahkan seluruh lelahnya kepada Yang Maha Melihat.

Ketulusannya tak pernah ia jadikan spanduk. Tak pernah ia klaim sebagai prestasi. Biarlah orang lain yang menilai atau bahkan tak menilai sama sekali.

Sebab ia percaya, Tuhan tidak pernah luput mencatat hati yang bersih. Seperti dawuh para ustadz, segala sesuatu kembali pada amal perbuatan.

Dan tiba-tiba tanpa gembar-gembor, tanpa strategi panggung namanya tertera di jajaran papan atas calon Sekda Sumenep.

Publik terdiam sejenak. Takjub. Bertanya dalam bisik: apa sebenarnya kelebihan Chainur Rasyid?

Barangkali bukan suara yang keras. Bukan langkah yang penuh gemuruh. Tetapi kesabaran yang panjang, dan niat yang tak pernah retak.

Begitulah takdir bekerja sunyi, tetapi pasti. Sejak sebelum kita mengenal dunia, Tuhan telah menuliskan kisah setiap makhluk di lembar yang tak pernah salah.

Kini kita hanya sedang berjalan, mengulang catatan yang telah selesai ditulis. Dan di antara baris-baris takdir itu, nama Chainur Rasyid perlahan naik ke permukaan bukan karena ambisi, melainkan karena waktu telah tiba pada gilirannya. ***

Tinggalkan Balasan

>