BeritaPeristiwa

Abrasi Menggila di Masalembu, Proyek Tangkis Laut Diduga Asal Jadi: Jalan Poros Terancam Putus

185
Abrasi Menggila di Masalembu, Proyek Tangkis Laut Diduga Asal Jadi: Jalan Poros Terancam Putus
FOTO: Program pembangunan plengsengan atau tangkis laut yang direalisasikan tahun lalu. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Pulau Masalembu, Madura, Jawa Timur, kian hari kian tergerus abrasi pantai yang semakin brutal.

Terjangan ombak besar di musim barat menghantam pesisir tanpa ampun, mengikis daratan sedikit demi sedikit, sementara upaya perlindungan dari pemerintah justru dinilai setengah hati dan sarat kejanggalan.

Parahnya, program pembangunan plengsengan atau tangkis laut yang direalisasikan tahun lalu justru tidak menyentuh titik pantai yang paling parah mengalami abrasi.

Bahkan, sebagian bangunan tangkis laut diduga dikerjakan asal jadi dan tidak sesuai petunjuk teknis (juknis).

“Plengsengan yang dibuat itu tidak menepi di pinggir pantai, malah julur ke laut. Akibatnya ombak justru menghantam sisi pantai yang tidak terlindungi dengan lebih keras,” ungkap salah seorang warga Masalembu, Sabtu (10/1/2026).

Akibat kesalahan konstruksi tersebut, abrasi semakin mendekati badan jalan.

Fakta di lapangan menunjukkan jarak antara bibir pantai dengan jalan raya beraspal kini tersisa sekitar satu meter saja.

“Kalau diukur, tinggal satu meter lagi ke jalan aspal. Ini jelas bukti bahwa pembangunan tangkis laut tidak mengikuti juknis. Yang penting ada proyek dan bukti fisik, soal dampak dan keselamatan warga diabaikan,” tegas warga.

Untuk diketahui, jalan yang terancam abrasi tersebut merupakan jalan poros utama dari Tanjung Batu menuju Kampung Raas, yang juga menjadi jalur vital menuju Kecamatan Masalembu.

“Jika abrasi terus dibiarkan, bukan hanya akses transportasi yang terputus, tetapi juga aktivitas ekonomi, layanan kesehatan, dan pendidikan warga akan lumpuh total,” tegasnya.

Sayangnya, hingga kini Pemerintah Kabupaten Sumenep, khususnya Bupati, dinilai tidak menunjukkan kepedulian serius terhadap kondisi darurat yang mengancam pulau kecil terluar tersebut.

Sementara itu, aspirasi warga Masalembu seolah tak pernah sampai ke telinga penguasa daerah.

“Masyarakat Masalembu seperti bukan lagi rakyatnya sendiri. Kami selalu dianaktirikan. Tapi setiap pemilu, kami diperlakukan seperti raja,” keluh warga dengan nada kecewa.

Menurutnya, abrasi pantai bukan sekadar persoalan lingkungan, melainkan ancaman nyata terhadap keselamatan warga dan keberlangsungan Pulau Masalembu.

Warga mendesak Pemerintah Kabupaten Sumenep segera turun langsung ke lokasi, mengevaluasi proyek tangkis laut yang diduga bermasalah, serta mengambil langkah konkret sebelum bencana yang lebih besar benar-benar terjadi.

“Jika pemerintah terus abai, bukan tidak mungkin Masalembu hanya tinggal nama dalam peta,” pungkas warga sebut saja Aliskun.

Hingga berita ini diterbitkan, upaya konfirmasi redaksi News9.id terhadap pihak terkait belum membuahkan hasil lantara terkendala kmunikasi. ***

Exit mobile version