SUMENEP, NEWS9 – Banjir yang merendam sebagian besar lahan pertanian di Desa Torbang, Kabupaten Sumenep, Madura, sejak awal pekan ini telah memicu kekhawatiran serius di kalangan petani lokal.
Salah satu suara paling lantang datang dari Yoga, seorang petani milenial yang belakangan dikenal karena konsistensinya dalam membangun ekosistem pertanian berbasis teknologi dan kolaborasi antar generasi petani.
Dengan latar belakang pendidikan pertanian dan semangat untuk memberdayakan desa, Yoga bukan sekadar petani biasa.
Ia mewakili gelombang baru petani muda yang ingin menjadikan pertanian sebagai profesi yang layak, berkelanjutan, dan modern.
Namun kini, semangat itu diuji oleh kenyataan pahit: air yang merendam sawah-sawah telah menyebabkan ratusan hektare tanaman padi yang baru disemai terancam gagal tumbuh.
“Lahan terendam hampir 70 persen. Tanaman padi yang baru mulai tumbuh sudah membusuk. Ini bukan sekadar bencana alam biasa, ini kegagalan sistemik yang dibiarkan berulang tahun demi tahun,” tegas Yoga kepada wartawan saat ditemui di lokasi lahan terdampak, Selasa pagi (14/5).
Menurut warga, kejadian seperti ini bukan hal baru. Setiap musim hujan, genangan air di lahan pertanian kerap terjadi akibat buruknya sistem drainase desa, ditambah kurangnya antisipasi dari pemerintah setempat.
Namun hingga kini, belum terlihat ada upaya sistematis dan terencana untuk mencegah bencana serupa terulang kembali.
“Sudah capek kami bicara. Setiap ada musibah seperti ini, baru semua sibuk rapat. Tapi begitu air surut, semua diam kembali. Tidak ada tindak lanjut yang berarti,” ujar petani senior yang sudah menggarap lahan di Torbang sejak era 80-an.
Yoga menegaskan, pemerintah desa bersama penyuluh pertanian harus segera mengambil langkah konkret.
Menurutnya, cukup sudah petani hanya diberi imbauan atau janji bantuan yang datang terlambat. Yang dibutuhkan adalah langkah cepat, nyata, dan terukur.
“Kalau kita bicara pertanian berkelanjutan, ya dimulai dari hal dasar dulu: jaga lahan supaya tidak tergenang. Ini soal infrastruktur, bukan cuaca semata. Kalau drainase diperbaiki, jika saluran air dibuat sistematis, kejadian seperti ini bisa dicegah. Kita harus jujur mengakui ada kelalaian manajerial di sini,” kata Yoga.
Ia juga menyarankan agar pemerintah desa membentuk satuan tugas (satgas) darurat yang terdiri dari petani, perangkat desa, dan tokoh masyarakat untuk memetakan titik rawan genangan dan menyusun strategi jangka panjang, termasuk normalisasi sungai kecil, revitalisasi embung desa, dan pelatihan adaptasi iklim bagi petani.
Kerugian akibat banjir ini tidak hanya bersifat fisik. Secara ekonomi, banyak petani yang sudah mengeluarkan modal cukup besar untuk pengolahan lahan, pembelian benih, dan pupuk. Genangan air yang berhari-hari ini membuat investasi mereka terancam sia-sia.
“Modal tanam musim ini sekitar jutaan per hektare. Kalau gagal, kami bukan cuma rugi, kami bisa tidak punya cukup modal untuk musim berikutnya,” ujar , seorang ibu rumah tangga dari salah satu Kelompok wanita tani ( KWT) yang juga mengelola lahan sawah warisan keluarganya.
Tak kalah penting, dampak psikologisnya pun besar. Banyak petani muda yang semangatnya perlahan luntur akibat kondisi yang terus menerus tidak berpihak.
Yoga mengaku sudah melihat beberapa rekan seangkatannya mulai beralih ke pekerjaan lain karena merasa bertani terlalu penuh risiko dan minim dukungan.
Kasus di Desa Torbang juga memperlihatkan perlunya perhatian lebih dari pemerintah kabupaten hingga provinsi.
Banjir di lahan pertanian bukan hanya soal desa. Ini soal ketahanan pangan. Jika petani lokal gagal tanam, maka rantai pasokan pangan terganggu dan harga komoditas bisa melonjak.
Yoga mengusulkan agar Kabupaten Sumenep segera membuat program revitalisasi infrastruktur pertanian berbasis data.
Ia juga berharap adanya intervensi dari Dinas Pertanian kabupaten Sumenep untuk membantu desa-desa seperti Torbang menghadapi ancaman iklim yang semakin sulit diprediksi.
“Kami Tidak Minta Banyak, Hanya Jangan Dibiarkan Sendiri,” tegasnya.
Menutup wawancara, Yoga mengirim pesan yang mencerminkan isi hati banyak petani saat ini.
“Kami tidak minta banyak. Kami hanya ingin tanah kami tidak terendam, usaha kami tidak sia-sia, dan suara kami tidak diabaikan. Petani itu bukan beban pembangunan, kami ini fondasinya. Tapi fondasi pun bisa retak kalau terus dibiarkan menanggung beban sendiri,” pungkasnya.
Kini bola ada di tangan pemerintah. Warga dan petani Torbang menunggu, tidak hanya janji atau kunjungan, tetapi tindakan nyata yang bisa menyelamatkan musim tanam tahun ini dan masa depan pertanian di desa mereka. ***
