SUMENEP, NEWS9 – Pemasangan Patok Pengarah (Delineator) atau patok penunjuk tepi jalan di wilayah Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, diprotes masyarakat.
Warga menilai patok yang dipasang menggunakan pipa berukuran kecil itu tidak memberikan manfaat maksimal bagi keselamatan pengguna jalan, terutama pada malam hari.
Berdasarkan pantauan warga, sedikitnya terdapat sekitar 10 patok yang dipasang di sepanjang ruas jalan Kecamatan Batang-Batang.
Namun, bentuk dan ukuran patok tersebut dinilai tidak mencerminkan fungsi sebenarnya sebagai penanda arah maupun batas jalan.
Muhammad, salah seorang warga, mengaku heran dengan model patok yang dipasang pemerintah.
Menurutnya, penggunaan pipa kecil membuat keberadaan patok sulit terlihat dan tidak efektif sebagai sarana keselamatan lalu lintas.
“Patok yang dipasang di sepanjang jalan dibuat dari pipa kecil. Itu tidak terlihat sebagai rambu atau penunjuk jalan dan tidak ada manfaatnya sama sekali. Ini menunjukkan pemerintah belum serius memberikan fasilitas keselamatan yang layak bagi pengguna jalan,” ujar Muhammad, Sabtu (6/6).
Dia juga mempertanyakan efektivitas patok tersebut ketika digunakan pada malam hari.
Menurutnya, minimnya ukuran patok membuat fungsi penunjuk arah hampir tidak terasa, terlebih di ruas jalan yang tidak dilengkapi penerangan umum.
“Bagaimana kalau malam hari? Patok dari pipa kecil seperti itu tidak ada gunanya bagi pengguna jalan. Apalagi di lokasi yang tidak memiliki lampu penerangan jalan,” tegasnya.
Padahal, kata Muhammad, keberadaan delineator seharusnya membantu pengemudi memperoleh jarak pandang yang lebih baik, terutama saat melintasi tikungan maupun ruas jalan dengan tingkat pencahayaan rendah.
Ia menilai material patok yang lebih kokoh, seperti beton cor, akan jauh lebih efektif dibandingkan pipa kecil yang mudah luput dari perhatian pengguna jalan.
“Kalau memang ingin membantu keselamatan pengendara, seharusnya patok dibuat lebih jelas dan kokoh. Material beton cor lebih layak karena dapat memperjelas lintasan jalan, terutama di tikungan dan tanjakan ringan,” katanya.
Muhammad berharap Pemerintah Provinsi Jawa Timur lebih memperhatikan aspek manfaat dan keselamatan dalam setiap proyek infrastruktur jalan.
Menurutnya, anggaran yang digunakan berasal dari APBD yang bersumber dari pajak masyarakat, sehingga penggunaannya harus benar-benar memberikan dampak nyata.
“Pemerintah jangan asal memasang patok hanya untuk memenuhi pekerjaan. Yang dibutuhkan masyarakat adalah fasilitas yang benar-benar berfungsi dan bermanfaat. Jangan lupa, anggaran yang digunakan berasal dari uang rakyat,” tandasnya. ***
