LUMAJANG, NEWS9 – Di tengah tantangan pemotongan anggaran desa yang cukup signifikan, sebuah asa justru tumbuh subur di lereng Gunung Semeru, tepatnya di Desa Pasrujambe, Kecamatan Pasrujambe, Kabupaten Lumajang.
Di sanalah Sugianto, seorang Kepala Desa muda yang energik, membuktikan bahwa keterbatasan birokrasi dan finansial bukanlah akhir dari sebuah pengabdian. Ia memilih melangkah melampaui sekat-sekat formalitas demi membawa kemajuan bagi tanah kelahirannya.
Langkah berani Sugianto menjadi buah bibir setelah ia memutuskan menggunakan sebagian dana pribadinya untuk membangun jalan lapen di desa. Kebijakan ini diambil bukan tanpa alasan.
Adanya pemangkasan Dana Desa (DD) hingga sekitar 70 persen dari tahun sebelumnya sempat mengancam laju pembangunan infrastruktur.
Enggan melihat roda ekonomi warganya melambat akibat jalan yang rusak, Sugianto memilih turun tangan secara langsung.
Bagi Sugiyanto, jabatan bukanlah kepanjangan tangan dari fasilitas, melainkan sebuah ruang untuk memberikan solusi nyata.
Aksi nyata sang Kepala Desa bak pemantik api yang membakar kembali semangat yang sempat redup. Sugianto berhasil menumbuhkan kembali budaya gotong royong yang selama ini mulai mengikis tergerus zaman.
Di bawah kepemimpinannya, warga Desa Pasrujambe kembali menemukan arti kebersamaan.
Mereka bergerak secara swadaya, menyumbangkan material, tenaga, hingga buah pikiran demi satu tujuan kemajuan desa.
“Beliau adalah sosok pemimpin muda yang cerdas, kredibel, dan sangat dekat dengan rakyat,” ungkap salah satu tokoh masyarakat Pasrujambe dengan nada bangga.
Apresiasi tinggi mengalir dari berbagai lini masyarakat.
Warga menyaksikan sendiri bagaimana pemimpin mereka tidak hanya duduk di balik meja, tetapi ikut bermandikan keringat, memimpin kerja bakti, dan mengumpulkan material di lapangan.
Di tangan dinginnya, pembangunan infrastruktur dasar di tingkat dusun bergerak cepat. Mulai dari pemasangan rabat beton, pembenahan lapangan sepak bola sebagai ruang kreativitas pemuda, hingga pembukaan akses jalan pertanian yang menjadi urat nadi perekonomian warga.
Bagi Sugianto, esensi dari sebuah pembangunan adalah keterlibatan masyarakat itu sendiri.
Saat ditemui oleh awak media pada Rabu (3/6/2026), pria yang dikenal ramah ini menegaskan bahwa kunci keberhasilan desa terletak pada sinergi dan komunikasi yang tanpa batas antara pemerintah dan warga.
“Kami harus sering turun langsung ke masyarakat untuk menyerap aspirasi dan juga meningkatkan sinergi dengan berbagai elemen dan semua pihak,” ujar Sugiyanto hangat.
Melalui pendekatan yang humanis dan aspiratif, praktik menggalang dana serta tenaga secara mandiri ini tidak lagi dipandang sebagai beban, melainkan sebagai sebuah kebanggaan bersama.
Pola swadaya ini terbukti mampu menghemat biaya pembangunan dan mempercepat proses perbaikan fasilitas publik.
Lebih dari itu, langkah ini berhasil merajut kembali rasa kekeluargaan dan memiliki di antara sesama warga.
Sugianto dan masyarakat Pasrujambe telah menuliskan sebuah pesan penting dari pelosok Lumajang: bahwa ketika anggaran negara menemui batasnya, maka cinta seorang pemimpin kepada rakyatnya dan semangat gotong royong warga akan selalu menemukan jalannya. ***
