SUMENEP, NEWS9 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digadang-gadang sebagai program unggulan pemerintah pusat justru memantik sorotan tajam di Kabupaten Sumenep.
Bukanya menghadirkan makanan sehat bagi siswa, program tersebut diduga menyajikan makanan berbau dan berjamur kepada anak-anak.
Kisruh itu mencuat dari dapur umum milik Yayasan Darul Arqom yang berada di wilayah Lenteng Barat, Kecamatan Lenteng, Kabupaten Sumenep.
Sejumlah wali murid mengungkapkan, makanan yang dibagikan kepada siswa ditemukan dalam kondisi tidak layak konsumsi, bahkan berjamur.
Temuan itu diduga menjadi bukti lemahnya sistem pengelolaan dan pengawasan program MBG di lapangan.
Hingga kini, disebut belum ada regulasi dan mekanisme kontrol yang jelas, sehingga pengelolaan dapur umum terkesan berjalan tanpa standar yang ketat dan akuntabel.
“Kalau program makan gratis yang bau busuk dan berjamur ini dibiarkan oleh pemerintah pusat, maka bisa saja terjadi korban keracunan pada anak-anak,” ujar seorang wali murid kepada media ini, Jumat (6/3).
Menurutnya, para orang tua setiap hari memastikan anak mereka berangkat sekolah dalam kondisi sehat. Namun situasi bisa berubah setelah anak-anak menerima makanan dari dapur MBG.
“Orang tua memastikan anak berangkat sehat, tapi setelah makan dari dapur Yayasan Darul Arqom justru tubuh mereka bisa menjadi tidak sehat. Ini bukan sekadar kelalaian, ini bisa disebut kejahatan terhadap manusia,” tegasnya.
Wali murid mendesak pemerintah pusat sebagai pemegang kebijakan segera turun tangan.
Mereka menilai persoalan tersebut tidak bisa dianggap sepele karena menyangkut keselamatan anak-anak.
“Kalau menu makanannya busuk dan berjamur, itu bukan hal biasa. Itu luar biasa buruknya. Lebih baik dapur umum Yayasan Darul Arqom ditutup saja,” katanya.
Di sisi lain, muncul dugaan bahwa maraknya pembangunan dapur MBG lebih didorong oleh kepentingan bisnis.
Banyak pihak berlomba membangun dapur umum tanpa kesiapan sistem dan pengawasan yang memadai.
Akibatnya, bahan makanan yang digunakan diduga dipilih dari kualitas paling murah demi mengejar keuntungan, mulai dari ayam, tempe, hingga bahan pokok lainnya.
Para wali murid pun meminta Badan Gizi Nasional (BGN) segera turun langsung melakukan evaluasi total terhadap operasional dapur MBG di Lenteng Barat.
“Kami meminta BGN segera melakukan evaluasi menyeluruh terhadap dapur umum Yayasan Darul Arqom. Jangan jadikan anak-anak kami sebagai objek uji coba makanan busuk,” tegasnya.
Ia bahkan menyarankan, jika tujuan utama hanya mengejar keuntungan dari proyek tersebut, maka sebaiknya tidak menjalankan program MBG yang menggunakan dana negara.
“Kalau mau cari untung besar, jangan kelola MBG. Ini menggunakan APBN dan korbannya anak-anak. Lebih baik berbisnis yang lain saja,” tandasnya.
Di sisi lain, para wali murid juga mendesak pemerintah pusat mengevaluasi secara menyeluruh program MBG.
“Kami menilai, jika pengawasan tetap lemah, program yang seharusnya menyehatkan justru berpotensi membahayakan generasi muda,” tandasnya.
Untuk diketahui, dalam perubahan kebijakan terbaru, MBG (Makanan Bergizi) mengumumkan bahwa setiap menu yang ditawarkan harus mencantumkan harga dengan jelas.
Selain itu, kebijakan bundling 3 hari dihapus, dan menu akan diberikan setiap hari, kecuali pada hari libur yang diperbolehkan bundling.
Perubahan tersebut disampaikan langsung oleh Wakil Kepala BGN, Irjen. Pol (Purn) Soni Sanjaya saat melakukan sidak ke Sekolah bertujuan meningkatkan transparansi dan fleksibilitas bagi pelanggan. ***
