BeritaOpini

Relevansi ‘The Right Man On The Right Place’ di Era AI dan Polemik Ketenagakerjaan Indonesia

89
Relevansi 'The Right Man On The Right Place' di Era AI dan Polemik Ketenagakerjaan Indonesia
FOTO: (istimewa) Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

OPININEWS9 – Ungkapan the right man on the right place yang menekankan penempatan orang yang tepat di posisi yang tepat secara historis berakar pada manajemen klasik untuk efisiensi organisasi.

Di era digital dan kecerdasan buatan (AI) saat ini, relevansi adagium tersebut tidak memudar, melainkan mengalami redefinisi yang fundamental.

Pada masa lalu, adagium ini berfokus pada kecocokan antara keahlian teknis (hard skills) yang statis dengan deskripsi pekerjaan yang kaku.

Saat ini, AI telah mengotomatisasi banyak tugas rutin dan analitis tingkat dasar. Akibatnya, posisi manusia yang “tepat” kini bergeser ke ranah yang tidak dapat direplikasi oleh mesin, seperti empati, pemikiran kritis, kreativitas, dan kepemimpinan strategis.

Menempatkan manusia di tempat yang tepat di era sekarang berarti membebaskan mereka dari pekerjaan administratif untuk fokus pada inovasi bernilai tinggi.

Dinamika era digital menuntut kelincahan (agility). Pekerjaan berkembang dengan sangat cepat sehingga keahlian spesifik bisa usang dalam hitungan tahun.

Oleh karena itu, definisi orang yang “tepat” kini lebih ditekankan pada kemampuan beradaptasi (adaptability) dan kemauan belajar yang terus-menerus (continuous learning), bukan sekadar gelar atau pengalaman masa lalu.

Seseorang dinilai tepat jika ia mampu berkolaborasi secara harmonis dengan teknologi AI, memanfaatkan alat tersebut untuk melipatgandakan produktivitasnya.

Meskipun demikian, prinsip dasarnya tetap mutlak relevan. Kegagalan menempatkan talenta yang memiliki literasi digital dan kecerdasan emosional di posisi strategis akan membuat organisasi tertinggal dalam disrupsi teknologi.

Bisa saya katakan bahwa, pepatah ini masih sangat relevan namun membutuhkan perluasan makna, artinya konsep ini tidak lagi sekadar tentang mencocokkan manusia dengan kotak statis dalam struktur organisasi, melainkan tentang bagaimana menempatkan manusia dengan kapasitas kognitif dan adaptabilitas tinggi untuk memimpin dan berinovasi bersama ekosistem digital. ***

Exit mobile version