BeritaPeristiwa

Nyaris Telan Korban, Atap SDN Pandeman II Arjasa Roboh Saat Proses Belajar

182
Nyaris Telan Korban, Atap SDN Pandeman II Arjasa Roboh Saat Proses Belajar
FOTO: Bagian atas bangunan SDN Pandeman II yang tiba-tiba runtuh. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Dunia pendidikan di Kecamatan Arjasa, Kepulauan Kangean, kembali diguncang peristiwa mengerikan.

Pada Selasa, 07 Oktober 2025 lalu, bagian atas bangunan SDN Pandeman II tiba-tiba runtuh saat proses belajar mengajar sedang berlangsung, nyaris memakan korban jiwa.

Suasana yang semula tenang mendadak berubah menjadi kepanikan besar ketika rangka atap yang rapuh dan plafon lapuk ambruk hanya beberapa meter dari lokasi siswa belajar.

Para guru langsung berteriak panik, sementara para siswa menangis ketakutan. Material kayu dan serpihan plafon menghantam lantai dengan keras.

Insiden itu bukan sekadar kerusakan bangunan tetapi peringatan keras akan buruknya kondisi infrastruktur pendidikan di wilayah Kepulauan.

Bangunan SDN Pandeman II kini masuk kategori rusak berat. Atap mengancam runtuh setiap saat, rangka kayu lapuk, serta plafon retak dari ujung ke ujung.

Ruang kelas tak lagi layak disebut ruang pendidikan lebih mirip ancaman maut bagi para pelajar.

Warga setempat menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan terjadi tiba-tiba.

Mereka sudah berulang kali meminta perhatian pemerintah, namun tak ada respons berarti.

Guru-guru selama ini tetap mengajar dengan rasa cemas, bahkan banyak siswa terpaksa belajar di luar kelas untuk menghindari risiko ambruk.

“Sedikit saja waktunya meleset, puluhan siswa bisa menjadi korban,” ujar salah satu wali murid, Selasa (18/11/2025).

Yang membuat masyarakat semakin geram, insiden seperti ini bukan pertama kali terjadi di Kepulauan Kangean.

Hampir setiap tahun ada sekolah yang retak, amblas, atau roboh. Seolah-olah keselamatan anak-anak di wilayah kepulauan dianggap tidak penting.

Kondisi itu kian mempertegas adanya ketimpangan pembangunan antara daratan dan kepulauan.

SDN Pandeman II hanyalah satu dari banyak sekolah yang terancam ambruk karena minimnya perhatian dan anggaran perbaikan.

Masyarakat Pandeman mendesak pemerintah segera bertindak sebelum tragedi lebih besar terjadi.

Mereka menilai pembiaran terhadap kondisi bangunan sekolah merupakan bentuk kelalaian serius yang tidak bisa lagi ditoleransi.

“Sampai kapan anak-anak Kangean harus belajar di bawah bayang-bayang maut? Haruskah ada korban jiwa dulu baru pemerintah bergerak?,” ungkapnya.

“Peristiwa di SDN Pandeman II menjadi bukti nyata bahwa krisis pendidikan di wilayah kepulauan sudah mencapai titik kritis. Jika tidak segera ditangani, tragedi berikutnya tinggal menunggu waktu,” tandas wali murid lain. ***

Exit mobile version