SAMPANG, NEWS9 – Upaya pemberantasan praktik perjudian, khususnya sabung ayam, terus digencarkan oleh jajaran Polsek Sokobanah, Kabupaten Sampang, Jawa Timur.
Tidak hanya melakukan penindakan, kepolisian juga membangun sinergi dengan tokoh masyarakat dan ulama untuk meningkatkan kesadaran warga akan bahaya sosial dari perjudian.
Sudah empat kali petugas Polsek mendatangi arena sabung ayam di Desa Bira Tengah, Kecamatan Sokobanah.
Meski hingga kini belum ada pelaku yang berhasil diamankan, langkah tegas tetap dilakukan, antara lain dengan membakar sarana dan prasarana yang digunakan dalam praktik perjudian, seperti terpal dan bambu.
“Kami tidak akan berhenti. Sampai kapan pun, praktik sabung ayam di wilayah hukum Polsek Sokobanah akan kami tindak,” tegas Kapolsek Sokobanah, Iptu Sujiyono, SH dalam keterangan persnya. Kamis, (10/7).
Dalam penindakan terbaru yang dilakukan Rabu (9/7) sore, Polsek Sokobanah kembali menggerebek lokasi yang diduga kerap digunakan sebagai arena judi sabung ayam.
Setelah menertibkan lokasi, petugas juga memberikan imbauan kepada warga sekitar tentang pentingnya menjaga keamanan dan ketertiban masyarakat (kamtibmas).
Sejak menjabat pada Agustus 2024, Iptu Sujiyono telah menetapkan pemberantasan segala bentuk perjudian, baik konvensional maupun daring, sebagai salah satu program prioritas di wilayah hukumnya.
Ia menegaskan tidak akan memberi toleransi atau izin terhadap praktik tersebut dalam bentuk apa pun.
Selain penindakan di lapangan, pendekatan persuasif dan preventif juga digalakkan.
Pihak Polsek menggandeng berbagai elemen masyarakat, termasuk tokoh agama dan pemuka adat, untuk menciptakan lingkungan sosial yang lebih sehat dan aman dari potensi konflik akibat perjudian.
“Dengan kolaborasi lintas elemen masyarakat, kami berharap kesadaran kolektif bisa tumbuh. Pemberantasan perjudian bukan hanya tugas polisi, tapi tanggung jawab bersama,” tambahnya.
Langkah Polsek Sokobanah tersebut mendapat beragam respons dari masyarakat.
Sebagian besar menyambut baik pendekatan humanis yang diambil, meski di sisi lain tantangan tetap ada, terutama dalam mengungkap dan menangkap para pelaku yang kerap beroperasi secara sembunyi-sembunyi. ***
