KeagamaanOpini

Puasa Ramadhan, Manifestasi Etika dan Detoksifikasi Komunikasi

122
FOTO: Aries Widojoko, S.Kom. M.M. CPM - Praktisi, pengajar media Radio & SDM. @by_News9.id

OPININEWS9 – Ibadah puasa seringkali dipahami secara sempit sebatas menahan lapar dan dahaga dari terbit fajar hingga terbenam matahari. Namun, esensi sejati dari shaum adalah pengendalian diri menyeluruh, termasuk dalam aspek komunikasi.

Di era digital saat ini, implementasi ibadah puasa dalam aktivitas komunikasi menjadi krusial sebagai bentuk transformasi spiritual dan sosial.

Secara teologis, Rasulullah SAW menegaskan bahwa Allah tidak membutuhkan rasa lapar seseorang yang tidak meninggalkan perkataan dusta (zur).

Hal ini menunjukkan bahwa kualitas puasa berbanding lurus dengan kualitas komunikasi.

Implementasi praktisnya adalah dengan menerapkan prinsip tabayyun (verifikasi) sebelum menyebarkan informasi.

Di tengah derasnya arus hoaks dan ujaran kebencian, seorang yang berpuasa dilatih untuk lebih selektif dan berhati-hati dalam berucap maupun mengetik pesan di media sosial.

Dalam hal Transformasi Komunikasi di Era Digital, Implementasi puasa dalam komunikasi dapat dibagi menjadi : Pengendalian Diri, Menghindari ghibah, Empati, Kesantunan.

Selain hal hal tadi, yang sekarang penting dilakukan yaitu Puasa Digital, yaitu Mengurangi konsumsi konten negatif dan membatasi waktu layar demi meningkatkan kualitas interaksi langsung dengan keluarga serta Allah SWT.

Jadi, Ibadah puasa adalah momentum untuk melakukan “detoksifikasi komunikasi“. Dengan mengintegrasikan nilai-nilai kejujuran, kesantunan, dan pengendalian diri ke dalam aktivitas sehari-hari, puasa tidak lagi menjadi ritual fisik semata, melainkan menjadi standar moral dalam berinteraksi.

Komunikasi yang terjaga selama Ramadhan diharapkan mampu membentuk karakter muttaqin yang tercermin dalam tutur kata yang menyejukkan dan penuh manfaat bagi sesama. ***

2

Exit mobile version