OPININEWS9 – Hari ini, di rumah istri, perayaan Idul Fitri sudah dimulai. Jika menghitung bunyi petasan dan damar kurung yang dilepas malam tadi, deg-degannya hati sungguh tak terperi.
Sampai-sampai, karena ingin ikut merayakan, saya dan istri sudah janjian. Setelah makan, kami berencana keliling kampung, melihat damar kurung, dan membisingkan telinga dengan bunyi petasan.
Kami bertiga pun keliling kampung. Gas motor saya tarik agak tanggung. Saat tanjakan, motor seakan nyaris mundur. Tapi saat merasakan suasana takbiran, segala kekhawatiran berubah menjadi syukur.
Sesekali, saat di jalan, motor sengaja saya matikan. Suasananya remang, memperindah langit dengan arakan damar kurung, dan bunyi petasan yang seakan bersahutan.
Saat itu, seluruh arah dan tujuan perjalanan terasa menyenangkan. Otak kanan dan kiri seakan kompak merayakan kebahagiaan, sebab hari ini, Kamis (19/3/2026), kami akan merayakan lebaran.
Akan tetapi, di sepertiga perjalanan menuju rumah, ada perasaan bingung yang tidak kaprah. Bingung sekali. Jika energi bahagia akan Idul Fitri ini kami habiskan hari ini, lalu bagaimana menyambut lebaran versi pemerintah nanti?
Sepanjang jalan, saya berusaha mencari beragam kemungkinan. Kira-kira, kebahagiaan jenis apa lagi yang mesti disiapkan, agar saat malam Idul Fitri versi pemerintah, rasa bahagianya tetap genuine dan tak terkesan dipaksakan?
Sampai mesin motor dimatikan, bahkan setelah memarkirnya di dekat gudang, cara untuk bahagia menyambut malam Idul Fitri versi pemerintah belum juga saya temukan. Mengaku benar-benar bahagia di momen yang sebenarnya sama, apakah memungkinkan?
Untuk berpura-pura merasa kembali bahagia, mungkin bisa. Bahkan meskipun perlu dipaksa. Tapi, jika perasaan itu tidak genuine, datang dan tumbuh dari respons yang tanpa direkayasa, apa bisa diulang untuk kedua, bahkan ketiga kalinya?
Hari ini saja, saat ada kawan yang masih berpuasa, sementara kawan lain sudah takbiran dengan penuh suka cita, seperti ada sebagian yang hilang di dada. Karena jika bisa takbiran bersama, rasanya pasti berbeda.
Perbedaan tafsir awal Idul Fitri, yang dibuat oleh para tuan dan oleh negara sendiri, tentu saja bisa memantik banyak hal. Mulai dari saling empati hingga saling menghormati. Akan tetapi, jika kebersamaan adalah kekuatan, bukankah bersama-sama memulai takbiran itu akan terasa lebih membahagiakan?
Kita diajari untuk selalu siap saling bantu dalam kesusahan, tanpa pandang agama, etnis, dan keturunan. Tapi soal menyambut lebaran, yang bahkan satu agama, kenapa tetap dianggap perlu untuk dibeda-bedakan? Kata seorang kawan, secara psikologi, ini tidak menyenangkan. Salam awam saja. ***
