SUMENEP, MEWS9 – Tragedi memilukan kembali menyelimuti warga Pragaan pada Selasa malam, 13 Mei 2025, sekitar pukul 19.28 WIB, A.B., warga Desa Pragaan Daya, meninggal dunia secara tragis.
Keluarga korban menuding kelalaian pihak Puskesmas Pragaan sebagai penyebab utama, terutama akibat tidak tersedianya oksigen medis saat dibutuhkan.
Korban, yang dikenal sebagai tulang punggung keluarga, meregang nyawa dalam kondisi kritis tanpa penanganan memadai.
Ketidaksiapan fasilitas dasar seperti oksigen disebut sebagai pemicu utama kematian tersebut.
Misbahul Umam M.Z., Ketua Gerakan Masyarakat Peduli Rakyat (GEMPAR) sekaligus aktivis muda Sumenep, mengecam keras manajemen Puskesmas Pragaan.
Dalam pernyataannya, ia menyebut pelayanan di puskesmas tersebut sebagai bentuk kegagalan sistemik yang sudah keterlaluan.
“Puskesmas Pragaan sudah tidak pantas lagi disebut pusat layanan kesehatan. Ketika oksigen, alat bantu vital bagi kehidupan tidak tersedia, itu bukan lagi kelalaian teknis. Itu bentuk kelalaian brutal yang merenggut nyawa,” tegasnya, Kamis (15/5/2025).
Kepada News9.id, Misbahul Umam menyerukan aksi massa pada Jumat, 16 Mei 2025, sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem kesehatan yang dinilai bobrok dan sarat pembiaran.
Aksi tersebut akan digelar di depan Pemkab Sumenep, Dinas Kesehatan, dan DPRD setempat, yang dianggap turut lalai dalam pengawasan.
“Kami akan mendesak Bupati Sumenep untuk segera melakukan evaluasi total terhadap manajemen Puskesmas Pragaan. Kepala Puskesmas dan Kepala UGD harus bertanggung jawab, baik secara administrasi, hukum, maupun sosial,” lanjutnya.
Menurutnya, kematian A.B. bukanlah insiden biasa, melainkan puncak dari gunung es persoalan layanan kesehatan di Pragaan.
Umam, sapan akrabnya, menilai jika kondisi tersebut dibiarkan, akan semakin banyak nyawa yang terancam.
“Ini bukan kesalahan teknis, tapi kejahatan struktural dalam pelayanan publik. Sistem yang bobrok seperti ini tidak boleh dibiarkan hidup sehari pun lagi di tengah masyarakat,” ujarnya dengan nada geram.
Lebih jauh, aktivis yang juga mantan Ketua Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) itu menekankan perjuangan itu bukan hanya soal satu nyawa, tapi menyangkut masa depan kesehatan masyarakat di Pragaan dan Sumenep secara luas.
“Kami tidak akan berhenti sampai ada perombakan total. Bila eksekutif dan legislatif tidak mampu menyelesaikan persoalan ini, maka bersiaplah menghadapi gelombang kemarahan rakyat,” pungkasnya. ***
