DK Batik Nilai UMKM Terancam Tergusur Kepentingan Kartel

- Editorial Team

Sabtu, 24 Januari 2026 - 18:55 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Toha, (kanan) owner DK Batik, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, @by_News9.id

FOTO: Toha, (kanan) owner DK Batik, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Harapan UMKM batik Sumenep, Jawa Timur untuk bangkit lewat program seragam Aparatur Sipil Negara (ASN) perlahan berubah menjadi tontonan yang mencengangkan.

Alih-alih memberi kepastian pasar bagi pengrajin batik, kebijakan tersebut dinilai minim transparansi, membingungkan pelaku usaha, bahkan berpotensi membuka ruang praktik kartel berkedok pelestarian budaya.

Di balik slogan “pemberdayaan UMKM”, para pengrajin mengaku dibiarkan berjalan tanpa arah.

Sosialisasi memang sudah digelar, namun substansi yang dibutuhkan pelaku usaha tidak pernah benar-benar disampaikan.

Ironisnya, mereka pulang bukan dengan kepastian, melainkan dengan tanda tanya.

Toha, owner DK Batik, asal Desa Matanair, Kecamatan Rubaru, mengaku hingga kini belum berani memproduksi batik untuk seragam ASN.

“Sampai hari ini DK Batik, belum membuat batik untuk seragam ASN itu,” ujar Toha, Jumat (23/1/2026).

Ia membenarkan sempat menghadiri sosialisasi, namun suasana forum disebut tidak kondusif karena dipenuhi perdebatan soal motif batik yang dianggap bukan batik asli Sumenep.

“Saya mencoba menengahi. Ada dua hal yang saya tekankan yaitu kearifan budaya Keraton Sumenep dan peluang usaha UMKM. Tapi kalau terus memperdebatkan mana batik asli, kapan selesainya. Regulasi sudah ada Perbup-nya, saya yakin pejabat seperti Kabag Hukum lebih paham, bukan begitu to,” sindirnya.

Toha juga menyayangkan tidak adanya penjelasan teknis yang justru paling krusial bagi pelaku UMKM.

“Tidak pernah ada kejelasan. Berapa kebutuhan seragam ASN? UMKM dapat jatah berapa? Skemanya seperti apa? Semua tidak pernah dibuka. Jadi saya bertanya, program ini benar-benar untuk UMKM atau hanya slogan di atas kertas?” ungkapnya.

Persoalan lain muncul pada isu harga batik sekitar Rp155 ribu per lembar yang dinilai tidak realistis.

“Dengan harga segitu, batik tulis canteng mustahil. Pengrajin pasti rugi. Kalo cap mungkin bisa, tapi alat cap mahal dan harus pesan dulu. Kalau ternyata order kecil, kami yang habis modal,” jelasnya.

Menurut Toha, tanpa kejelasan volume pesanan dan skema distribusi, UMKM seolah dipaksa berjudi dengan modal sendiri.

“Bukan hanya saya yang bingung. Pengrajin lain yang ikut sosialisasi juga merasakan hal yang sama,” tegasnya.

Sebelumnya, kebijakan ini dipromosikan sebagai bagian dari visi Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo, untuk memperkuat identitas budaya sekaligus mengangkat ekonomi pengrajin lokal.

Baca Juga:  Gebrakan Digitalisasi Syariah, BPRS Bhakti Sumekar Gandeng Bank Muamalat

Bahkan, payung hukumnya telah diterbitkan melalui Perbup Sumenep Nomor 67 Tahun 2025 tentang Busana Budaya Keraton dan Busana Khas Sumenep.

Namun realitas di lapangan menunjukkan adanya jarak antara narasi kebijakan dan kondisi riil pelaku usaha.

Baca Juga:  Kasus BSPS Sumenep 2024 Makin Panas, Kejari Segera Naikkan ke Penyidikan

UMKM yang seharusnya menjadi subjek utama program justru merasa hanya menjadi penonton.

Tidak dilibatkan serius dalam perencanaan, tidak diberi kepastian pasar, dan tidak memperoleh kejelasan teknis.

“Kalau kondisi ini terus dibiarkan, bukan tidak mungkin program yang diklaim sebagai pemberdayaan UMKM justru berubah menjadi bisnis kartel,” pungkas Toha. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Job Fair 2026 Sumenep Buka 3.141 Lowongan Kerja
Hari Sales Sedunia ke-10, KONUS Gandeng N1 Auto Pro Berikan Gift untuk Para Sales
Founder Tabur Baik Siap Luncurkan “PROFESIONAL”, Tekan Pengangguran di Sumenep
Bukan Sekadar Bank Daerah, BPRS Bhakti Sumekar Kembali Ukir Prestasi Nasional
Dari Pesisir Banyuwangi ke Amerika dan Eropa, Koral Budidaya Menjadi Primadona Pasar Dunia
AOE 2026, Madiun Kenalkan Produk Lokal dan Potensi Investasi
PT Djarum Belum Pastikan Serapan Tembakau Madura
Siap Serap Hasil Panen Tembakau, Haswal Group Buka Pembelian Perdana
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 28 September 2026 - 09:19 WIB

Job Fair 2026 Sumenep Buka 3.141 Lowongan Kerja

Sabtu, 26 September 2026 - 10:00 WIB

Hari Sales Sedunia ke-10, KONUS Gandeng N1 Auto Pro Berikan Gift untuk Para Sales

Sabtu, 12 September 2026 - 13:22 WIB

Founder Tabur Baik Siap Luncurkan “PROFESIONAL”, Tekan Pengangguran di Sumenep

Sabtu, 5 September 2026 - 08:00 WIB

Bukan Sekadar Bank Daerah, BPRS Bhakti Sumekar Kembali Ukir Prestasi Nasional

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 17:24 WIB

Dari Pesisir Banyuwangi ke Amerika dan Eropa, Koral Budidaya Menjadi Primadona Pasar Dunia

Berita Terbaru