Kuasa Hukum Pekerja Menangkan Gugatan, Atas Pemecatan Sepihak Oleh PT Sukanda Djaya

- Redaktur

Sabtu, 8 Agustus 2026 - 20:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Sidang gugatan pekerja dalam perselisihan hubungan industrial. @by_News9.id

FOTO: Sidang gugatan pekerja dalam perselisihan hubungan industrial. @by_News9.id

SURABAYA, NEWS9 – Perselisihan antara pekerja dengan PT Sukanda Djaya berawal dari persoalan pengiriman produk Kinder Joy dalam program promo nasional pada Mei 2025.

Persoalan administrasi terkait masa kedaluwarsa (expired date/ED) produk tersebut kemudian berkembang menjadi tuduhan penggelapan dalam jabatan hingga berujung pada pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap pekerja.

Dalam perkara tersebut, pekerja didampingi tim kuasa hukum Didik Sumartono, SH, MH, CLCP., Muhamad Isnadi, SH, CPLA. dan Kristian Siberani, SH. Gugatan pekerja dalam perselisihan hubungan industrial tersebut kemudian dimenangkan berdasarkan Putusan Pengadilan Negeri Surabaya Nomor 38/Pdt.Sus-PHI/2026/PN Sby.

Peristiwa bermula pada Mei 2025 ketika terdapat program promo nasional Kinder Joy di toko LMT dengan mekanisme pembelian 1+1.

Dalam pelaksanaan promo tersebut, PO atau pesanan dari toko diinput oleh PLO, yaitu bagian administrasi yang melakukan input pesanan di kantor pusat (HO). Dalam proses input, ED produk disebut tidak diperiksa oleh PLO secara tepat.

Akibatnya, produk yang terkirim ke outlet memiliki ED Januari 2026. Padahal, berdasarkan kebutuhan dan ketentuan order yang seharusnya, produk yang diinput adalah dengan ED September 2025.

Persoalan tersebut kemudian diketahui melalui audit internal. Audit menemukan adanya produk dengan ED yang lebih panjang terkirim ke outlet.

Temuan itu selanjutnya dilaporkan kepada manajemen PT Sukanda Djaya.

Baca Juga:  Tepis Opini Menyesatkan, LHA Persaudaraan Setia Hati Terate Pusat Madiun Tegaskan Fakta Otentik Persidangan di Bale Bandung

Manajemen HO kemudian menilai adanya potensi kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta.

Namun, dari sudut pandang pekerja, muncul persoalan mengenai pihak yang dibebani tanggung jawab atas potensi kerugian tersebut.

Sebab, proses input PO dilakukan oleh PLO di kantor pusat, sementara tanggung jawab kemudian diarahkan kepada Branch Manager (BM) dan dua Supervisor (SPV).

Pekerja mempertanyakan dasar pembebanan tersebut karena kesalahan yang dipersoalkan berkaitan dengan proses input ED pada saat order dilakukan.

Tidak berhenti di sana, manajemen juga menduga adanya kemungkinan permainan antara SPV dengan pihak outlet, termasuk dugaan adanya pemberian imbalan dari outlet kepada SPV maupun BM.

Atas dugaan tersebut, PT Sukanda Djaya kemudian membawa persoalan tersebut ke ranah hukum dengan melaporkannya kepada Polsek Pakis dengan tuduhan penggelapan dalam jabatan sebagaimana Pasal 374 KUHP.

Polsek Pakis kemudian melakukan pemanggilan dan pemeriksaan terhadap pihak-pihak terkait, termasuk SPV, BM, serta pihak outlet PT Ratu Idaman Pratama.

Untuk menelusuri dugaan adanya pemberian uang atau imbalan kepada SPV dan BM, dilakukan pula pemeriksaan terhadap laporan keuangan pihak outlet.

Dari proses pemeriksaan tersebut, berdasarkan keterangan pekerja, tidak ditemukan adanya aliran dana kepada SPV maupun BM, baik melalui transfer maupun transaksi tunai (cash).

Baca Juga:  Satgas MBG Sampang Evaluasi Dapur SPPG di Tambelangan, Pastikan Standarisasi Terpenuhi

Dengan demikian, dugaan adanya pemberian uang yang menjadi dasar kecurigaan terhadap pekerja tidak terbukti dari penelusuran aliran dana tersebut.

Pada akhirnya, Polsek Pakis menyimpulkan tidak ditemukan indikasi penggelapan dalam jabatan sebagaimana dugaan yang dilaporkan. Laporan kepolisian tersebut kemudian dikembalikan kepada PT Sukanda Djaya.

Meskipun dugaan penggelapan dalam jabatan tidak ditemukan dalam pemeriksaan kepolisian, persoalan internal antara pekerja dan perusahaan masih berlanjut.

PT Sukanda Djaya tetap meminta SPV dan BM untuk melakukan penggantian atas potensi kerugian yang diperkirakan mencapai sekitar Rp500 juta.

Dalam kondisi tersebut, BM menyatakan bersedia mengganti sebesar Rp5 juta.

Namun, menurut posisi pekerja, kesediaan mengganti Rp5 juta tersebut bukan merupakan pengakuan bahwa BM melakukan kesalahan dalam proses input ED.

Kesanggupan tersebut semata-mata disampaikan sebagai bentuk tanggung jawab dalam melakukan monitoring terhadap bawahan.

Perselisihan kemudian semakin berkembang. PT Sukanda Djaya melakukan hold terhadap gaji BM untuk bulan September.

Ketika BM tidak bersedia mengganti nilai potensi kerugian sesuai dengan nominal yang diharapkan manajemen, perusahaan kemudian menerbitkan Surat Peringatan (SP) 3 pada 24 Oktober.

Pada tanggal yang sama, BM kemudian mengalami PHK secara sepihak.

Dari perspektif pekerja, PHK tersebut berkaitan dengan penerbitan SP 3 serta ketidaksediaan BM untuk mengganti potensi kerugian sesuai dengan tuntutan yang diharapkan manajemen.

Baca Juga:  Diduga Cabuli Dua Anak Bertahun-tahun, Guru Ngaji di Pamekasan Ditangkap

Pekerja menilai terdapat persoalan mendasar dalam tindakan perusahaan tersebut, terutama karena dugaan penggelapan dalam jabatan yang sebelumnya dilaporkan kepada kepolisian tidak ditemukan berdasarkan hasil pemeriksaan, sementara tanggung jawab atas persoalan input ED tetap diarahkan kepada BM dan SPV.

Karena keberatan terhadap tindakan perusahaan, pekerja kemudian menempuh jalur hukum melalui mekanisme perselisihan hubungan industrial.

Dalam proses tersebut, pekerja didampingi oleh kuasa hukum Didik Sumartono, SH, MH, CLCP., Muhamad Isnadi, SH, CPLA. dan Kristian Siberani, SH.

Perkara tersebut kemudian diperiksa di Pengadilan Negeri Surabaya. Dalam putusannya, sebagaimana tercantum dalam Putusan Nomor 38/Pdt.Sus-PHI/2026/PN Sby, gugatan pekerja dinyatakan menang.

Perkara ini menunjukkan bahwa persoalan yang bermula dari pengiriman produk dengan perbedaan ED kemudian berkembang menjadi persoalan ketenagakerjaan.

Dari sudut pandang pekerja, terdapat pertanyaan mengenai pembebanan tanggung jawab kepada BM dan SPV atas persoalan input yang dilakukan oleh PLO, terlebih setelah dugaan penggelapan dalam jabatan yang dilaporkan kepada kepolisian tidak menemukan indikasi sebagaimana yang dituduhkan.

Kemenangan pekerja dalam perkara hubungan industrial tersebut menjadi bagian penting dalam perjuangan untuk mendapatkan keadilan atas tindakan perusahaan yang dinilai merugikan hak-hak pekerja. ***

Facebook Comments Box

Penulis : Didik

Editor : Seno CS

Sumber Berita: https://News9.id

Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan 102 Botol Miras
Korban Dipanggil Polisi Usai Laporkan Dugaan Penganiayaan Pegawai DPUTR Sumenep
Polres Lumajang Ungkap Kasus Pengedar dan Pemakai Narkoba
Curi Travo Perahu di Pelabuhan, Tiga Warga Pasongsongan Dibekuk Polisi
Polisi Tangkap Pelaku Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak di Rubaru Sumenep
HP Warga Diduga Masih Dikuasai Banit Reskrim Polsek Masalembu
Polresta Sumenep Bongkar Kasus Narkoba, 7 Tersangka Diciduk dan 55,5 Gram Sabu Disita
Kasus Penganiayaan Oknum Pegawai DPUTR Sumenep Masuk Penyidikan
Berita ini 291 kali dibaca

Berita Terkait

Kamis, 3 September 2026 - 10:06 WIB

Satresnarkoba Polresta Sumenep Amankan 102 Botol Miras

Rabu, 2 September 2026 - 19:22 WIB

Korban Dipanggil Polisi Usai Laporkan Dugaan Penganiayaan Pegawai DPUTR Sumenep

Rabu, 2 September 2026 - 13:19 WIB

Polres Lumajang Ungkap Kasus Pengedar dan Pemakai Narkoba

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 19:18 WIB

Curi Travo Perahu di Pelabuhan, Tiga Warga Pasongsongan Dibekuk Polisi

Sabtu, 29 Agustus 2026 - 18:55 WIB

Polisi Tangkap Pelaku Dugaan Kekerasan Seksual terhadap Anak di Rubaru Sumenep

Berita Terbaru

FOTO: dr. Erliyati, M.Kes., (kiri), Direktur RSUD dr. H. Moh. Anwar Sumenep. @by_News9.id

KESEHATAN

RSUD Sumenep Masuk Enam Stan Terbaik di MNV 2026

Sabtu, 5 Sep 2026 - 06:36 WIB