BeritaPeristiwa

Roti Kedaluwarsa Dibagikan ke Siswa, Kepala SPPG Batang-Batang Daya Pilih Bungkam

142
×

Roti Kedaluwarsa Dibagikan ke Siswa, Kepala SPPG Batang-Batang Daya Pilih Bungkam

Sebarkan artikel ini
Roti Kedaluwarsa Dibagikan ke Siswa di Sumenep, Kepala SPPG Pilih Bungkam
FOTO: Makanan Roti yang diberikan dengan masa kedaluwarsa yang hampir habis kepada para siswa penerima manfaat. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Dugaan kelalaian dalam distribusi makanan bagi siswa kembali mencuat di Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur.

Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Yayasan Bhakti Bunda Berjaya di wilayah Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, diduga membagikan roti dengan masa kedaluwarsa yang hampir habis kepada para siswa penerima manfaat.

Temuan itu bermula dari laporan sejumlah wali murid dan guru yang menemukan roti dalam paket makanan siswa memiliki tanggal kedaluwarsa yang sangat dekat.

Bahkan, beberapa roti disebut hanya memiliki selisih satu hari sebelum tanggal kedaluwarsa, sementara paket MBG tersebut disiapkan untuk konsumsi beberapa hari sekaligus dalam sistem rapelan dari Senin hingga Sabtu.

Seorang wali murid menilai pengelola seharusnya lebih teliti dan bertanggung jawab dalam memastikan kelayakan makanan yang diberikan kepada anak-anak.

“Sebagai penyedia layanan konsumsi untuk siswa, seharusnya lebih berhati-hati. Tidak semua orang memahami batas aman makanan untuk dikonsumsi. Jika sampai berdampak pada kesehatan anak-anak, tentu sangat merugikan,” ujarnya.

Menurutnya, persoalan itu bukan hanya menyangkut kesehatan siswa, tetapi juga menyangkut kredibilitas lembaga atau yayasan yang terlibat dalam penyediaan makanan program tersebut.

Saat dikonfirmasi media ini, Kepala SPPG Batang-Batang Daya, Zainuddin, memilih bungkam terkait kebenaran roti yang dibagikan kepada siswa hanya berselisih satu hari dari tanggal kedaluwarsa.

Ia juga tidak memberikan penjelasan ketika ditanya mengenai jumlah item makanan yang dibagikan serta nilai anggaran satuan paket MBG untuk distribusi rapelan dari Senin hingga Sabtu.

Bahkan, saat dimintai keterangan terkait langkah tegas yang diambil pihak SPPG setelah ditemukan makanan dengan masa kedaluwarsa yang hampir habis, Zainuddin tidak memberikan jawaban.

Namun sebelumnya, dalam konfirmasi kepada pihak sekolah, Zainuddin sempat mengakui adanya kelalaian dalam pengecekan masa kedaluwarsa roti yang dibagikan kepada siswa.

Menurutnya, sebelum melakukan pemesanan, pihaknya telah menanyakan masa konsumsi produk kepada penyedia roti.

Dari informasi yang diterima, roti tersebut disebut masih layak dikonsumsi selama lima hingga enam hari ke depan.

“Namun setelah dicek kembali, ternyata tanggal kedaluwarsanya sampai tanggal 15. Ini menjadi keteledoran kami karena tidak melakukan pengecekan ulang secara detail. Bukan unsur kesengajaan. Kami justru ingin memberikan yang terbaik bagi penerima manfaat,” kata Zainuddin.

Ia juga menjelaskan bahwa pemesanan roti dilakukan beberapa hari sebelumnya karena harus bersaing dengan dapur lain yang juga memesan produk serupa.

“Pemesanan kami lakukan sejak Jumat, sementara pendistribusian pada Sabtu. Memang harus pesan lebih awal karena banyak dapur lain yang juga memesan. Biasanya roti dan bahan lainnya sampai ke dapur sehari sebelum didistribusikan,” tandasnya.

Kasus tersebut memunculkan pertanyaan publik terkait standar pengawasan kualitas makanan dalam program MBG, terutama karena program tersebut menyasar anak-anak sekolah yang membutuhkan jaminan keamanan dan kelayakan konsumsi.

Hingga berita ini diterbitkan lagi, belum ada keterangan resmi dari pihak pengelola program maupun instansi terkait mengenai langkah evaluasi atau pengawasan terhadap dugaan kelalaian tersebut. ***

Tinggalkan Balasan

>