BeritaPeristiwa

Pasca Tragedi Balita di Saradan, Alat Berat Disiagakan untuk Penutupan Galian C

32
×

Pasca Tragedi Balita di Saradan, Alat Berat Disiagakan untuk Penutupan Galian C

Sebarkan artikel ini
Pasca Tragedi Balita di Saradan, Alat Berat Disiagakan untuk Penutupan Galian C
FOTO: Satu unit alat berat jenis backhoe yang disiagakan di lokasi. @by_News9.id

MADIUN, NEWS9 – Langkah penanganan terhadap bekas galian C di Dusun Purworejo, Desa Tulung, Kecamatan Saradan, mulai menunjukkan progres pasca insiden tragis yang merenggut nyawa seorang balita.

Satu unit alat berat jenis backhoe telah disiagakan di lokasi sejak Rabu (15/4/2026). Namun demikian, proses pengurukan belum dapat direalisasikan karena masih menunggu kesepakatan menyeluruh dari warga terdampak.

Ketua RT setempat, Kartono, menjelaskan bahwa secara prinsip tidak terdapat penolakan dari pemilik lahan, Sunarto, terhadap rencana reklamasi.

Kendala utama justru terletak pada aspek teknis pelaksanaan yang bersinggungan dengan kepentingan warga sekitar, khususnya pemilik lahan pertanian.

“Pemilik lahan pada dasarnya sudah menyetujui. Namun untuk pelaksanaan, masih perlu disepakati bersama, terutama terkait akses alat berat,” ujar Kartono.

Persoalan akses menjadi krusial mengingat lokasi galian dikelilingi area persawahan yang saat ini dalam kondisi produktif.

Warga khawatir mobilisasi alat berat akan merusak tanaman padi, yang tentu berdampak pada penghidupan mereka.

Pemerintah desa bersama masyarakat pun berencana menggelar musyawarah lanjutan guna mencari solusi yang proporsional.

“Banyak sawah aktif di sekitar lokasi. Kekhawatirannya, jalur alat berat akan merusak tanaman. Ini yang sedang dicarikan jalan tengah agar tidak merugikan salah satu pihak,” tambahnya.

Di sisi lain, tekanan sosial agar lubang bekas galian segera ditutup terus menguat.

Warga menilai keberadaan lubang tersebut telah menjadi ancaman nyata bagi keselamatan, terutama bagi anak-anak.

Sadino, salah satu warga, menegaskan bahwa kehadiran alat berat merupakan hasil dorongan kolektif masyarakat.

“Alat itu datang karena desakan warga. Setelah kejadian kemarin, kami tidak ingin ada penundaan lagi. Keselamatan harus jadi prioritas, jangan sampai ada korban berikutnya,” tegasnya.

Diketahui, lokasi bekas galian C tersebut telah menelan dua korban jiwa dalam kurun waktu satu tahun terakhir.

Insiden terbaru menimpa Rizuka Putra Ramadhan (4) yang ditemukan meninggal dunia akibat tenggelam pada Selasa (14/4/2026).

Sebelumnya, pada April 2025, kejadian serupa juga merenggut nyawa Rochmad Yusuf Alfarizal (11).

Peristiwa berulang ini memunculkan tuntutan publik akan percepatan penanganan sekaligus evaluasi menyeluruh terhadap pengelolaan bekas tambang galian C.

Di satu sisi, aspek keselamatan menjadi urgensi yang tidak dapat ditunda, namun di sisi lain, pendekatan solutif yang mempertimbangkan dampak ekonomi warga juga menjadi bagian penting dalam proses pengambilan kebijakan. ***

Tinggalkan Balasan

>