SUMENEP, NEWS9 – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sumenep resmi mengeluarkan peringatan dini terhadap potensi bencana alam yang diperkirakan dapat terjadi sewaktu-waktu.
Tiga ancaman utama yang menjadi fokus adalah angin puting beliung, banjir atau genangan air, serta tanah longsor.
Kepala Pelaksana BPBD Sumenep, Ach. Laili Maulidy, menegaskan peringatan tersebut bukan sekadar prediksi, melainkan hasil pemantauan intensif berdasarkan pola cuaca dan catatan kejadian selama tiga tahun terakhir.
“Setiap masa peralihan musim, tiga jenis bencana ini selalu berulang. Kami tidak lagi bicara kemungkinan, ini adalah pola. Ini ancaman nyata,” ujarnya, Rabu (21/5/2025).
Dalam laporan BPBD, sejumlah wilayah di Sumenep telah mengalami dampak nyata dari bencana-bencana tersebut.
Angin puting beliung merusak permukiman warga, banjir terjadi akibat saluran drainase yang tersumbat, dan longsor kecil mengancam daerah perbukitan serta lahan miring.
Sayangnya, kondisi itu diperparah oleh kebiasaan masyarakat yang masih membuang sampah sembarangan serta minimnya kesadaran lingkungan.
“Banjir itu bukan semata-mata karena hujan deras, tetapi karena saluran air yang mampet. Dan itu akibat ulah manusia sendiri. Ini soal kesadaran kolektif,” tegas Laili.
Untuk mengantisipasi dampak yang lebih luas, BPBD terus melakukan koordinasi dengan pemerintah desa dan kecamatan.
Peringatan dini disebarkan melalui berbagai kanal informasi, termasuk langkah edukatif guna meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat.
“Masyarakat tidak boleh hanya menunggu bantuan. Keselamatan itu dimulai dari diri sendiri. Ini tanggung jawab bersama,” tambahnya.
Laili juga mendorong sinergi lintas sektor pemerintah daerah, tokoh masyarakat, hingga dunia pendidikan untuk membentuk budaya sadar bencana di kalangan masyarakat.
“Bencana memang tidak bisa dicegah, tapi dampaknya bisa ditekan seminimal mungkin jika semua pihak bergerak bersama,” tegasnya lagi.
Di tengah ketidakpastian iklim global serta kemunculan fenomena kemarau basah yang menjadi ancaman baru.
Untuk itu, Laili menghimbau kepada masyarakat Sumenep agar tidak lagi bersikap reaktif, melainkan proaktif dalam menghadapi potensi bencana.
“Ini bukan soal alam yang marah, tetapi manusia yang lalai. Kita harus ubah cara pandang dan perilaku, mulai dari hal paling sederhana: jangan buang sampah sembarangan,” pungkasnya. ***












