BeritaPertanian

APPI Jatim Imbau Petani Lumajang Lebih Selektif Memilih Pupuk di Tengah Penurunan Alokasi Subsidi

413
×

APPI Jatim Imbau Petani Lumajang Lebih Selektif Memilih Pupuk di Tengah Penurunan Alokasi Subsidi

Sebarkan artikel ini
Foto: Macam jenis pupuk yang ada dipasaran, @by_News9.id
Foto: Macam jenis pupuk yang ada dipasaran, @by_News9.id

LUMAJANG, News9 – Alokasi pupuk subsidi untuk petani Kabupaten Lumajang pada tahun 2025 mengalami penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.

Data dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang menunjukkan alokasi pupuk urea turun 3.107 ton dan NPK turun 1.953 ton. Sebaliknya, pupuk organik justru mengalami kenaikan sebesar 462 ton.

Ketua Asosiasi Petani Pangan Indonesia (APPI) Jawa Timur, Iskhak Subagio, mengingatkan petani untuk lebih cermat dan teliti dalam memilih pupuk, terutama dengan beragam merek yang tersedia di pasaran.

Ia menjelaskan bahwa pupuk resmi harus memiliki nomor registrasi dari Departemen Pertanian (Deptan) Republik Indonesia yang tertera pada kemasannya.

“Nomor registrasi pada pupuk resmi terdiri dari kode jenis pupuk, bulan, tahun, dan nomor urut pendaftaran. Sebagai contoh, 01/01/2021/655 berarti pupuk anorganik yang terdaftar pada Januari 2021 dengan nomor urut 655,” ujar Iskhak.

Ia juga menjelaskan klasifikasi kode pada pupuk, Kode 01: Pupuk anorganik, Kode 02: Pupuk organik, Kode 03: Dekomposer dan Kode 04: Dolomit.

“Petani harus memeriksa apakah kode tersebut sesuai dengan yang tertera pada kemasan dan memastikan pupuk memiliki izin edar dari Kementerian Perdagangan dengan masa edar lima tahun,” tambahnya.

Selain itu, Iskhak mendorong petani untuk mulai beralih ke pupuk alami yang dapat dibuat sendiri dari bahan seperti dedaunan atau kotoran hewan.

Menurutnya, pertanian ramah lingkungan tidak hanya menjaga kesuburan tanah, tetapi juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani dalam jangka panjang.

Turunnya Alokasi Pupuk Subsidi Penurunan alokasi pupuk subsidi menjadi tantangan besar bagi petani di Lumajang.

Pada tahun 2024, alokasi pupuk urea mencapai 31.384 ton, sementara pada 2025 turun menjadi 28.277 ton. Untuk NPK, alokasi sebelumnya sebesar 29.206 ton kini hanya 27.253 ton.

Adapun alokasi pupuk organik meningkat dari 3.029 ton menjadi 3.491 ton.

Sebagai solusi atas penurunan alokasi tersebut, APPI Jawa Timur merekomendasikan penggunaan pupuk alternatif untuk menutupi kebutuhan yang tidak terpenuhi.

Iskhak juga menekankan pentingnya peningkatan kesadaran petani terhadap pertanian organik sebagai upaya menjaga keberlanjutan produksi pangan.

“Petani harus kembali pada praktik pertanian yang ramah lingkungan. Dengan pupuk alami, tidak hanya tanah yang terjaga, tetapi juga biaya produksi bisa ditekan,” tegas Iskhak.

Ia menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah, asosiasi petani, dan petani untuk menghadapi penurunan alokasi subsidi ini.

Selain itu, edukasi mengenai ciri pupuk resmi dan cara membuat pupuk alami diharapkan dapat membantu petani memanfaatkan sumber daya yang ada dengan lebih efektif. ***

Tinggalkan Balasan

>