JEMBER, NEWS9 – Dugaan praktik penimbunan BBM solar bersubsidi di Jember semakin menguat.
Saat dilakukan inspeksi mendadak (sidak), kamera pengawas di SPBU 53.681.35 Jalan Basuki Rahmat, Tegal Besar, Kecamatan Sumbersari, justru tidak merekam aktivitas apa pun.
Petugas SPBU mengaku kamera pengawas tersebut sebenarnya dalam kondisi menyala pada Sabtu (14/3/2026) malam.
Namun anehnya, rekaman tidak tersimpan. Petugas berdalih sistem CCTV memang kerap mengalami gangguan.
“CCTV-nya nyala, tapi tidak merekam. Kami juga tidak tahu kalau tidak merekam. Memang sering error,” ujar salah satu petugas di lokasi.
Kondisi tersebut memicu kecurigaan saat Anggota DPR RI Bambang Hariadi melakukan sidak ke SPBU tersebut setelah menerima laporan adanya dugaan penimbunan BBM ilegal.
Dalam sidak itu, Bambang menemukan CCTV tidak berfungsi sebagaimana mestinya.
Ia juga terlihat geram saat mendapati petugas SPBU yang sedang dimintai keterangan justru sibuk memainkan telepon genggam.
Bambang menduga jawaban yang diberikan petugas bukan murni penjelasan langsung, melainkan hasil arahan dari seseorang melalui ponsel.
“Sidak ini kami lakukan setelah sebelumnya anggota DPRD Jember David Handoko Seto terlibat aksi kejar-kejaran dengan truk yang diduga mengangkut solar bersubsidi hasil penimbunan dari Kecamatan Sumbersari hingga Kecamatan Ambulu,” tegas Bambang.
Sementara itu, Anggota Komisi C DPRD Jember David Handoko Seto mengungkapkan peristiwa dramatis saat dirinya mencoba menghentikan truk yang diduga membawa solar bersubsidi hasil penimbunan.
Menurut David, truk yang telah dimodifikasi tersebut membawa sekitar 4.000 liter solar.
Saat dilakukan pengejaran bersama aparat kepolisian, kendaraan itu justru menabraknya sebelum akhirnya berhasil meloloskan diri.
Tidak hanya itu, David juga mengaku sempat mengalami percobaan pembunuhan ketika tiba-tiba belasan orang datang dan mengeroyok dirinya.
Ia menduga para pelaku merupakan bagian dari sindikat penimbunan BBM.
“Saya bahkan sempat ditabrak truk yang membawa sekitar 4.000 liter solar. Saat pengejaran dengan polisi, pelaku berhasil kabur. Setelah itu saya juga dikeroyok belasan orang yang diduga bagian dari sindikat penimbunan BBM,” ungkapnya.
David menegaskan pihaknya tidak akan berhenti memburu para pelaku penimbunan solar bersubsidi yang dinilai merampas hak masyarakat.
“Negara sudah menggelontorkan subsidi miliaran rupiah untuk meringankan beban rakyat. Tapi justru dirampok oleh para penggarong hak rakyat sebagai konsumen solar,” tegasnya.
Sementara itu, Bambang Hariadi meminta aparat penegak hukum, khususnya kepolisian dan TNI, untuk memperketat pengawasan di setiap SPBU.
Ia menilai pengintaian perlu dilakukan untuk memantau kendaraan mencurigakan yang melakukan pengisian BBM dalam jumlah tidak wajar.
Di sisi lain, keluhan masyarakat mulai bermunculan. Salah seorang warga yang enggan disebutkan namanya, sebut saja Her, mengaku sering tidak kebagian solar saat hendak membeli di SPBU tersebut.
“Kalau kami mau beli solar sering sudah habis. Banyak konsumen menduga ada permainan antara petugas SPBU dengan pelaku pengisian ilegal,” tandasnya. ***













>