BeritaOpini

Dari 3 Anggota Dewan Jelang Lebaran, Sebuah Pelajaran Berbahaya

134
×

Dari 3 Anggota Dewan Jelang Lebaran, Sebuah Pelajaran Berbahaya

Sebarkan artikel ini
Dari 3 Anggota Dewan Jelang Lebaran, Sebuah Pelajaran Berbahaya
FOTO: (ilustrasi) 3 anggota dewan. Satu di tempat kerja, dan dua di tempat belanja. @by_News9.id

OPININEWS9 – Tak kurang dari sepekan, sejak Jumat hingga Selasa kemarin, saya bertemu dengan 3 anggota dewan. Satu di tempat kerja, dan dua di tempat belanja. Kamis, 19 Maret 2026.

Dari ketiganya, catatan ini bermula. Dan dari ketiganya pula, saya seperti diingatkan: sering kali pikiran kita terlalu cepat bekerja, bahkan sebelum kenyataan selesai berbicara.

Sebelum Jumatan (13/3/2026), saya diajak berbincang oleh seorang kawan dewan. Kami bersalaman di tempat kerjanya, di lantai dua, dan sekitar 47 menit kami hangat berbincang.

Kami bertukar kegelisahan. Subjektivitas kami, dalam bercerita, saling respect. Seluruhnya gayeng dan ngalir. Sampai-sampai, kami berencana menggelar event saronin bini’.

Saat hendak pulang, saya diberi hadiah. Katanya, lumrahnya Ramadan begitu. Karena disebut lumrah, saya tidak berpura-pura menolak. Khawatir disangka anti dengan kelumrahan yang ada. Jadi terima saja (aha).

Hari kemarin, Selasa (17/3/2026), saya bertemu dengan dua anggota dewan yang partai dan garis geografis tugasnya pun berbeda. Tapi, keduanya betul-betul saya temui di tempat belanja.

Anggota dewan pertama, saya temui saat belanja tutup kepala. Dari gelagatnya, dia sudah rampung membeli. Akad jual beli sudah terjadi. Hanya saja, karena khawatir ukurannya kurang pas, dia kembali ke toko tempat saya membeli tutup kepala yang sama.

Setahu saya, kami kenal satu sama lain. Kadang kami berbalas pesan soal kelakuan anggota dewan. Akan tetapi, di tempat belanja itu, dia seperti lebih sibuk dengan kekhawatirannya. Mungkin tak enak hati jika mesti menukar barang yang sudah sah dibeli.

Alhasil, pertemuan kami pun menjadi canggung: hanya salaman, dan sapaan saya pun sepertinya tak terlalu diindahkan. Jawabannya tak begitu panjang, sekenanya. Akhirnya saya pun melipir sejauh-jauhnya.

Dan anggota dewan kedua, saya temui di tempat belanja mirip toserba; baju anak kecil, mukena hingga sarung dewasa, semuanya ada. Saat itu, dia sedang bersama buah hatinya. Kami bertemu di stan sarung.

Saya menyapa lebih dulu, dia sempat menghindar. Mungkin khawatir saya bukan orang yang dia kenal. Namun, setelah menoleh, pertanyaan pertamanya langsung memberi kesan akrab: kok tidak datang kemarin? Ada tugas, Mas, jawab saya sejujur-jujurnya.

Dari dua pertemuan itu, saya seperti dihadapkan pada dua kemungkinan: apakah saya akan mempercayai kenyataan, atau justru mengikuti pikiran yang gemar mengarang?

Kembali ke kalimat terakhir di paragraf kedua, saya menyadari bahwa menetralkan pikiran yang mengada-ada itu bukan perkara gampang. Ujiannya berat, apalagi tak semua kawan sepemahaman.

Rasanya butuh latihan. Butuh berkali-kali bertemu anggota dewan, agar pikiran ini terlatih, tidak sembarangan, dan menggantunkan harapan yang berlebihan. Sebab, sekali saja dibiarkan liar, pikiran itu bisa menyusun cerita yang terasa masuk akal, padahal belum tentu benar.

Dari dua tempat belanja, di hari yang sama, saya pulang tanpa membawa oleh-oleh apa pun dari mereka. Meski di tempat belanja, tempat paling mudah memberikan oleh-oleh kepada kolega, dua anggota dewan ini tidak melakukannya.

Sedangkan anggota dewan lain, yang lokasinya jauh dari tempat perbelanjaan, dengan sengaja memberikan oleh-oleh untuk Lebaran.

Kalau mau disederhanakan, saya bisa saja membuat kesimpulan cepat: dua anggota dewan tidak dermawan. Tapi di situlah bahayanya. Yang terlihat baik belum tentu selalu baik. Yang terasa biasa saja, belum tentu tanpa makna.

Lagi pula, di masa yang akan datang, kita serba tidak tahu. Yang baik di masa lalu, bisa jadi adalah jebakan di masa depan. Dan yang kita cap buruk hari ini, bisa jadi adalah anugerah di masa depan.

Dan tentu saja, sudah banyak sekali kalimat bijak soal itu. Sama halnya ungkapan lain: kalau manis jangan langsung ditelan, kalau pahit jangan segera dimuntahkan. Bisa jadi yang pertama racun, dan yang kedua adalah jamu, kata orang-orang bijak dulu.

Hanya saja, karena tidak dilatih untuk belajar menerima, belajar bahwa kebaikan tak perlu diminta, maka egoisme dangkal kita sering kali mengukurnya dari suka tak suka belaka.

Terakhir, dari pertemuan dengan 3 anggota DPRD yang berbeda, pelajarannya sederhana: hidup memang butuh harapan, tapi berharap hidup dari selain diri kita, itu adalah cara paling berbahaya untuk menjadi manusia. ***

Tinggalkan Balasan

>