BeritaPeristiwa

Diduga Bagikan Roti Kedaluwarsa ke Siswa, Program MBG di Batang-Batang Daya Jadi Sorotan

173
Diduga Bagikan Roti Kedaluwarsa ke Siswa, Program MBG di Batang-Batang Daya Jadi Sorotan
FOTO: Makanan berupa roti yang masa kedaluwarsanya hampir habis yang dikasih kepada para siswa penerima manfaat. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Bhakti Bunda Berjaya di Desa Batang-Batang Daya, Kecamatan Batang-Batang, Kabupaten Sumenep, menuai sorotan.

Penyedia program tersebut diduga membagikan makanan berupa roti yang masa kedaluwarsanya hampir habis kepada para siswa penerima manfaat.

Dugaan itu mencuat setelah sejumlah wali murid dan guru menemukan roti yang dibagikan kepada anak-anak memiliki masa kedaluwarsa yang sangat dekat.

Bahkan, makanan yang diterima siswa disebut hanya memiliki selisih satu hari sebelum tanggal kedaluwarsa, sementara paket tersebut disiapkan untuk konsumsi selama beberapa hari.

Seorang wali murid menilai, sebagai penyedia layanan konsumsi untuk anak-anak, pihak pengelola seharusnya lebih teliti dalam memastikan kelayakan makanan yang dibagikan.

“Sebagai penyedia jasa, seharusnya lebih hati-hati. Tidak semua orang memahami batas waktu aman makanan untuk dikonsumsi. Jika sampai berdampak pada kesehatan anak-anak, tentu ini sangat merugikan,” ujarnya.

Ia juga menegaskan bahwa persoalan tersebut tidak hanya menyangkut kesehatan siswa, tetapi juga menyangkut reputasi lembaga atau yayasan yang terlibat dalam penyediaan makanan tersebut.

Sementara itu, Kepala MBG Bhakti Bunda Berjaya, Zainuddin, saat dikonfirmasi pihak sekolah mengakui adanya kelalaian dalam pengecekan masa kedaluwarsa produk roti yang dibagikan kepada siswa.

Menurutnya, sebelum melakukan pemesanan, pihaknya telah menanyakan masa konsumsi produk kepada penyedia roti.

Dari informasi yang diterima, roti tersebut disebut masih layak dikonsumsi selama lima hingga enam hari ke depan.

“Namun setelah dicek kembali, ternyata tanggal kedaluwarsanya sampai tanggal 15. Ini menjadi keteledoran kami karena tidak melakukan pengecekan ulang secara detail. Bukan unsur kesengajaan. Kami justru ingin memberikan yang terbaik bagi penerima manfaat,” kata Zainuddin, Sabtu (14/3).

Ia juga menjelaskan bahwa pemesanan roti dilakukan beberapa hari sebelumnya karena harus bersaing dengan dapur lain yang juga memesan produk serupa.

“Pemesanan kami lakukan sejak Jumat, sementara pendistribusian pada Sabtu. Memang harus pesan lebih awal karena banyak dapur lain yang juga memesan. Biasanya roti dan bahan lainnya sampai ke dapur sehari sebelum didistribusikan,” jelasnya.

Kasus tersebut menjadi perhatian para wali murid yang berharap pengelola program lebih ketat dalam mengawasi kualitas dan keamanan makanan yang diberikan kepada siswa.

Guru dan wali murid menegaskan bahwa program yang bertujuan meningkatkan gizi anak sekolah tidak boleh diwarnai kelalaian yang berpotensi membahayakan kesehatan penerima manfaat. ***

Exit mobile version