SUMENEP, NEWS9 – Kondisi kebersihan di Desa Kalianget Timur, Kecamatan Kalianget, Kabupaten Sumenep, Madura, semakin memprihatinkan.
Sampah yang menumpuk di area pelabuhan rakyat (pelra) bahkan mulai mencemari laut dan merusak ekosistem mangrove di sekitarnya.
Ketua Kelompok Masyarakat Pengawas (Pokmaswas) Kelautan dan Perikanan Kecamatan Kalianget, Sarkawi, menyatakan bahwa pemerintah desa dan camat Kalianget terkesan tidak proaktif dalam menangani persoalan sampah tersebut.
“Kurangnya sosialisasi dari pihak desa dan camat kepada masyarakat membuat penanganan sampah di Kalianget Timur terabaikan. Padahal, desa ini adalah kawasan transit antarpulau, sehingga mobilitas tinggi warga membawa potensi besar timbulnya sampah,” ujar Sarkawi, kepada News9.id, Minggu (25/5/2025).
Menurutnya, pemerintah desa dan kecamatan seharusnya aktif melakukan sosialisasi dan menggandeng instansi setempat untuk terjun langsung ke lokasi-lokasi rawan pembuangan sampah.
Sarkawi juga mendorong pelaksanaan gotong royong rutin setiap Jumat bersih, sesuai dengan slogan Bupati Sumenep.
“Urusan pengangkutan memang tanggung jawab DLH, tapi penanganan awal di lokasi adalah tanggung jawab bersama. Sayangnya, pemerintah desa dan BPD seolah hanya duduk manis mengelola dana desa,” tegasnya.
Selain itu, dia menyoroti penggunaan Dana Desa (DD) yang mencapai Rp1,5 miliar per tahun.
Bahkan dalam dua tahun terakhir terdapat alokasi anggaran keadaan mendesak senilai Rp340 juta yang belum jelas pemanfaatannya.
“Untuk apa anggaran sebesar itu kalau lingkungan tetap kumuh dan laut tercemar?” tanya Sarkawi.
Untuk itu, ia mendesak Bupati Sumenep memberikan teguran keras (warning) kepada Camat Kalianget dan Kepala Desa Kalianget Timur agar lebih peduli terhadap isu kebersihan dan lingkungan.
“Laut kita rusak, mangrove tercemar, masyarakat pun dirugikan. Jangan hanya sibuk bagi-bagi anggaran, tapi abaikan kebersihan yang jadi wajah desa,” pungkas Sarkawi. ***
