SUMENEP, NEWS9 – Kinerja Kapolsek Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, kembali menjadi sorotan tajam warga setempat.
Selama masa jabatannya, aparat dinilai hanya berani menyasar kurir dan pengguna narkoba, sementara para bandar justru diduga dibiarkan bebas beroperasi.
Di tengah kondisi tersebut, peredaran narkoba di Kepulauan Masalembu kian mengkhawatirkan.
Situasi itu bukan hanya merusak tatanan sosial, tetapi juga mengancam masa depan generasi muda di wilayah kepulauan.
Seorang tokoh agama yang enggan disebutkan namanya mengungkapkan kekecewaannya terhadap kinerja aparat penegak hukum setempat.
“Ini menjadi tanda tanya besar. Kapolsek Masalembu seolah tidak bertindak terhadap bandar. Dugaan penyalahgunaan wewenang semakin kuat karena pasar gelap narkotika tetap hidup,” ujarnya, Minggu (22/3/2026).
Ia mencontohkan, penangkapan yang dilakukan selama ini hanya menyasar kurir berinisial ED dan beberapa korban lainnya.
Sementara barang haram tersebut diduga berasal dari bandar berinisial HL yang sempat melarikan diri, namun kini kembali beroperasi di Masalembu.
“Masalembu tidak akan pernah bersih dari narkoba jika pimpinan di atasnya tidak serius. Kapolres dan Polda harus berani mengevaluasi anggotanya di lapangan,” tegasnya.
Menurutnya, pemberantasan narkoba tidak cukup hanya menyasar pelaku kecil. Diperlukan keberanian untuk menindak bandar sebagai aktor utama peredaran.
“Jangan jadikan kurir sebagai alat pencitraan. Kalau bandar tidak disentuh, itu artinya penegakan hukum hanya sandiwara,” katanya.
Ironisnya, praktik transaksi narkoba disebut masih berlangsung bahkan di bulan Ramadan, khususnya pada malam hari.
Kondisi itu memunculkan dugaan adanya jaminan keamanan dari oknum tertentu.
“Kalau transaksi masih berjalan terang-terangan, publik pasti bertanya: siapa yang melindungi,” ujarnya.
Sedikitnya empat nama berinisial HL, A, P, dan S disebut-sebut warga sebagai bandar yang hingga kini masih leluasa beroperasi.
Namun, tidak ada langkah penindakan tegas yang dirasakan masyarakat.
“Nama-nama itu bukan rahasia. Semua orang tahu. Tapi hukum seolah lumpuh mata ditutup, mulut dibungkam,” ungkapnya.
Warga juga menduga pembiaran tersebut berkaitan dengan posisi Kapolsek Masalembu, Ipda Asnan, yang dikabarkan akan segera memasuki masa pensiun.
“Sepertinya, Kapolres Sumenep yang baru kini lebih sibuk pencitraan, sehingga tidak bisa memberantas dan menangkap 4 Bandar narkoba di Masalembu,” tegasnya.
“Kami sangat curiga ada pembiaran karena Kapolseknya mau pensiun. Bandar justru makin berani,” kata warga lainnya.
Atas kondisi itu, masyarakat mendesak perhatian serius dari pimpinan kepolisian, mulai dari tingkat pusat hingga daerah, untuk segera turun tangan.
“Kami meminta dengan sangat kepada Kapolres Sumenep, Kapolda Jawa Timur, dan Kapolri untuk segera mengevaluasi menyeluruh terhadap kinerja Polsek Masalembu dan menangkap bandar narkoba sebelum merusak sendi kehidupan masyarakat kepulauan,” tandasnya. ***
