NEWS9OPINI – Tidak banyak kata yang lahir dari bibirnya, namun setiap tindak-tanduknya adalah bahasa kasih yang tak pernah berhenti berbicara.
Dia bukan sosok yang gemar menasihati panjang lebar. Ia bukan pula yang mudah menunjukkan kasih dengan pelukan.
Namun di balik diamnya, ada cinta yang begitu dalam, bahkan mungkin terlalu dalam untuk diucapkan.
Ayah, lelaki yang sering terlihat tegar, ternyata menyimpan banyak lelah yang tak pernah ia ceritakan.
Ia berjalan di bawah panas matahari, menembus hujan, menelan kecewa, hanya agar kita bisa tumbuh tanpa kekurangan.
Di balik setiap senyum yang kita tunjukkan, ada pengorbanan yang ia bungkus dengan kesunyian.
Kita tumbuh dengan berpikir bahwa kasih sayang selalu tampak lembut, padahal kasih ayah justru keras seperti batu karang yang menahan gelombang.
Dia mungkin tak pandai berkata “Aku sayang kamu”, tapi setiap pagi saat ia berangkat kerja, setiap kali tangannya kasar mengelus kepala kita, di situlah cinta itu bersemayam.
Kini, di Hari Ayah ini, mari kita sejenak berhenti. Menunduk dalam diam, mengenang setiap langkah kaki ayah yang mungkin kini telah menua, atau bahkan tak lagi bersama kita.
Mari kirimkan doa, peluk dalam kenangan, dan ucapkan sesuatu yang dulu sering kita tahan “Terima kasih, Ayah. Maaf karena jarang berkata, tapi aku tahu tanpa kasihmu, aku tak akan pernah berdiri sekuat ini.”
Ayah bukan hanya sosok di rumah, ia adalah arah. Ketika dunia terasa asing dan gelap, bayangannya menjadi kompas yang menuntun.
Dia adalah pahlawan tanpa pangkat, cinta tanpa syarat, dan doa yang selalu berjalan di belakang langkah kita.
Selamat Hari Ayah. Untuk semua lelaki yang mencintai dalam diam, berjuang tanpa pamrih, dan menangis tanpa air mata.
Dunia mungkin tak selalu tahu betapa besar pengorbananmu, tapi kami anak-anakmu selalu tahu siapa cahaya di balik setiap keberhasilan kami. ***
