Menghidupkan Tradisi Leluhur, Filosofi Blangkon di Era Kepemimpinan Mas Fauzi

- Redaksi

Kamis, 21 November 2024 - 22:30 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Foto: Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, memperlihatkan dedikasinya dalam merawat warisan leluhur melalui kebijakan penggunaan blangkon khas Sumenep. @by_News9.id

Foto: Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, memperlihatkan dedikasinya dalam merawat warisan leluhur melalui kebijakan penggunaan blangkon khas Sumenep. @by_News9.id

SUMENEP, News9 – Budaya adalah cermin identitas. Di tengah arus modernisasi, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, memperlihatkan dedikasinya dalam merawat warisan leluhur melalui kebijakan penggunaan blangkon khas Sumenep.

Langkah ini tak sekadar memperkenalkan simbol budaya, tetapi juga menyisipkan filosofi luhur yang terkandung di dalamnya.

“Ini adalah blangkon khas Sumenep, yang dipakai raja-raja terdahulu,” ucap Bupati Fauzi saat menjelaskan kepada Presiden Joko Widodo dan para Menteri dalam kunjungan kerja ke Sumenep, 20 April 2022.

Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya melestarikan budaya sebagai warisan tak ternilai.

Tadjul Arifien R., seorang budayawan senior Sumenep, menjelaskan bahwa blangkon Sumenep memiliki filosofi mendalam, yaitu “abhâlâng ajâ ngembhân pakon” berupaya maksimal melaksanakan amanah.

Baca Juga:  Semarak Karnaval Peringati HUT RI Ke-80 2025 Digelar Desa Sumbersuko

Filosofi ini membedakan blangkon Sumenep dari blangkon daerah lain, seperti Solo atau Yogyakarta.

Menurut Tadjul, di kutip dari dimadura.id, blangkon Sumenep memiliki tiga jenis utama:

1. Blângkon Pasonḍhân: Dikenakan bupati atau adipati sebagai pengganti mahkota.

2. Blângkon Tongkosan: Digunakan pejabat keraton, dengan motif unik yang mencerminkan keanggunan.

3. Blângkon Ghântong Rè’-kèrè’: Blangkon sehari-hari yang memperlihatkan ciri khas lokal.

Setiap jenis blangkon ini mencerminkan nilai estetika sekaligus tanggung jawab pemakainya, menguatkan pesan bahwa budaya adalah amanah yang harus dilestarikan.

Langkah Bupati Fauzi untuk menghidupkan kembali nuansa Keraton Sumenep telah dimulai sejak pelantikannya pada Februari 2021.

Kebijakan seperti mewajibkan ASN pria mengenakan blangkon dan batik tulis khas Sumenep pada hari Kamis dan Jumat menjadi salah satu cara menjaga identitas lokal.

Baca Juga:  Cinta Menyatukan Hati, Wakil Bupati Sumenep Menikah dengan Anggota Brimob

Tidak berhenti di situ, tamu yang hendak berkunjung ke Rumah Dinas Bupati juga diwajibkan memakai blangkon.

Ini bukan semata formalitas, tetapi upaya untuk menguatkan citra budaya Sumenep sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.

Perdebatan tentang blangkon sempat mencuat dalam debat Pilkada, di mana salah satu calon mengklaim bahwa Sumenep tidak mengenal blangkon.

Tadjul dengan tegas menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk pemahaman budaya yang dangkal.

“Kalau mau memimpin Sumenep, mereka harus memahami sejarah dan budaya daerah ini, bukan sekadar mendengar kata orang,” sindir Tadjul.

Blangkon, menurutnya, bukan sekadar aksesori. Ia adalah simbol tanggung jawab, amanah, dan jati diri.

Baca Juga:  Tradisi Lintas Zaman: 64 Pasang Sapi Adu Cepat di Kerapan Sapi Piala Bupati Sumenep 2025

Pemimpin yang tidak memahami makna filosofisnya berisiko kehilangan pijakan dalam memimpin masyarakatnya.

Langkah Bupati Fauzi adalah contoh nyata bagaimana pemimpin bisa mengintegrasikan budaya dalam kebijakan publik.

Namun, kesuksesan ini tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan formal. Perlu ada dukungan dari masyarakat untuk terus mempelajari dan merawat kekayaan budaya yang ada.

Budaya seperti blangkon dan odheng bukanlah alat untuk mempertegas perbedaan, melainkan simbol keberagaman yang memperkaya identitas Sumenep.

Di tengah gempuran budaya asing, langkah ini adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus warisan untuk generasi mendatang. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu
Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme
Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial
BPRS Bhakti Sumekar Angkat Tari Mowang Sangkal ke Panggung Edukasi
Festival Ketupat 2026, Tradisi Lama Disulap Jadi Pesta Kreatif Memikat
Warisan Leluhur Tak Lekang Zaman: Seblang Olehsari Kembali Hidupkan Spirit Tradisi Using
Arca Dewa Wisnu di Area Keraton Sumenep
Ketika Ketetapan Busana Dijadikan Titah Kekuasaan
Berita ini 2 kali dibaca

Berita Terkait

Rabu, 8 Juli 2026 - 20:27 WIB

Gemerlap Petik Laut Rawatan Samudra 2026, Tradisi Leluhur Menjaga Laut Masalembu

Selasa, 2 Juni 2026 - 23:16 WIB

Doa Sang Proklamator 2026, Bupati Fauzi Tegaskan Pentingnya Merawat Nasionalisme

Rabu, 27 Mei 2026 - 09:58 WIB

Idul Adha Bukan Sekadar Penyembelihan, Melainkan Simbol Keikhlasan, Kemanusiaan, dan Kepedulian Sosial

Jumat, 17 April 2026 - 12:08 WIB

BPRS Bhakti Sumekar Angkat Tari Mowang Sangkal ke Panggung Edukasi

Kamis, 26 Maret 2026 - 15:13 WIB

Festival Ketupat 2026, Tradisi Lama Disulap Jadi Pesta Kreatif Memikat

Berita Terbaru