SUMENEP, News9 – Budaya adalah cermin identitas. Di tengah arus modernisasi, Bupati Sumenep, Achmad Fauzi, memperlihatkan dedikasinya dalam merawat warisan leluhur melalui kebijakan penggunaan blangkon khas Sumenep.
Langkah ini tak sekadar memperkenalkan simbol budaya, tetapi juga menyisipkan filosofi luhur yang terkandung di dalamnya.
“Ini adalah blangkon khas Sumenep, yang dipakai raja-raja terdahulu,” ucap Bupati Fauzi saat menjelaskan kepada Presiden Joko Widodo dan para Menteri dalam kunjungan kerja ke Sumenep, 20 April 2022.
Pernyataan tersebut menegaskan pentingnya melestarikan budaya sebagai warisan tak ternilai.
Tadjul Arifien R., seorang budayawan senior Sumenep, menjelaskan bahwa blangkon Sumenep memiliki filosofi mendalam, yaitu “abhâlâng ajâ ngembhân pakon” berupaya maksimal melaksanakan amanah.
Filosofi ini membedakan blangkon Sumenep dari blangkon daerah lain, seperti Solo atau Yogyakarta.
Menurut Tadjul, di kutip dari dimadura.id, blangkon Sumenep memiliki tiga jenis utama:
1. Blângkon Pasonḍhân: Dikenakan bupati atau adipati sebagai pengganti mahkota.
2. Blângkon Tongkosan: Digunakan pejabat keraton, dengan motif unik yang mencerminkan keanggunan.
3. Blângkon Ghântong Rè’-kèrè’: Blangkon sehari-hari yang memperlihatkan ciri khas lokal.
Setiap jenis blangkon ini mencerminkan nilai estetika sekaligus tanggung jawab pemakainya, menguatkan pesan bahwa budaya adalah amanah yang harus dilestarikan.
Langkah Bupati Fauzi untuk menghidupkan kembali nuansa Keraton Sumenep telah dimulai sejak pelantikannya pada Februari 2021.
Kebijakan seperti mewajibkan ASN pria mengenakan blangkon dan batik tulis khas Sumenep pada hari Kamis dan Jumat menjadi salah satu cara menjaga identitas lokal.
Tidak berhenti di situ, tamu yang hendak berkunjung ke Rumah Dinas Bupati juga diwajibkan memakai blangkon.
Ini bukan semata formalitas, tetapi upaya untuk menguatkan citra budaya Sumenep sebagai bagian tak terpisahkan dari kehidupan masyarakatnya.
Perdebatan tentang blangkon sempat mencuat dalam debat Pilkada, di mana salah satu calon mengklaim bahwa Sumenep tidak mengenal blangkon.
Tadjul dengan tegas menyebut pernyataan tersebut sebagai bentuk pemahaman budaya yang dangkal.
“Kalau mau memimpin Sumenep, mereka harus memahami sejarah dan budaya daerah ini, bukan sekadar mendengar kata orang,” sindir Tadjul.
Blangkon, menurutnya, bukan sekadar aksesori. Ia adalah simbol tanggung jawab, amanah, dan jati diri.
Pemimpin yang tidak memahami makna filosofisnya berisiko kehilangan pijakan dalam memimpin masyarakatnya.
Langkah Bupati Fauzi adalah contoh nyata bagaimana pemimpin bisa mengintegrasikan budaya dalam kebijakan publik.
Namun, kesuksesan ini tidak bisa hanya bertumpu pada kebijakan formal. Perlu ada dukungan dari masyarakat untuk terus mempelajari dan merawat kekayaan budaya yang ada.
Budaya seperti blangkon dan odheng bukanlah alat untuk mempertegas perbedaan, melainkan simbol keberagaman yang memperkaya identitas Sumenep.
Di tengah gempuran budaya asing, langkah ini adalah bentuk penghormatan terhadap leluhur sekaligus warisan untuk generasi mendatang. ***
