BeritaDaerah

Pamekasan 495 Tahun, Dari Ronggosukowati ke Era Digital Gerbang Salam

142
×

Pamekasan 495 Tahun, Dari Ronggosukowati ke Era Digital Gerbang Salam

Sebarkan artikel ini
Pamekasan 495 Tahun, Dari Ronggosukowati ke Era Digital Gerbang Salam
FOTO: Kabupaten Pamekasan salah satu wilayah bersejarah di Pulau Madura, merayakan hari jadi ke-495 tahun. @by_News9.id

PAMEKASAN, NEWS9 – Hari jadi kabupaten bukan sekadar seremoni tahunan, melainkan momentum penting untuk mengenang akar sejarah, meneguhkan identitas, dan memperkuat semangat kebersamaan masyarakatnya.

Pada 3 November 2025, Kabupaten Pamekasan salah satu wilayah bersejarah di Pulau Madura, merayakan hari jadi ke-495 tahun.

Perayaan itu bukan hanya bentuk syukur, tetapi juga refleksi perjalanan panjang Bumi Gerbang Salam, dari masa Pangeran Ronggosukowati hingga menjadi kabupaten modern yang terus berbenah menghadapi tantangan zaman.

Sejarah mencatat, tonggak berdirinya Kabupaten Pamekasan bermula pada pengukuhan Pangeran Ronggosukowati sebagai raja pada 3 November 1530 Masehi atau bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 937 Hijriah.

Momentum itulah yang kemudian dijadikan dasar penetapan Hari Jadi Kabupaten Pamekasan, sebagaimana tertuang dalam Peraturan Daerah Nomor 17 Tahun 2004.

Pangeran Ronggosukowati dikenal sebagai pemimpin visioner yang membawa nilai-nilai Islam ke dalam pemerintahan lokal, sekaligus meletakkan pondasi sosial dan budaya yang kuat bagi masyarakat Pamekasan.

Dari situlah julukan “Bumi Gerbang Salam” berakar, menggambarkan karakter religius dan terbukanya masyarakat terhadap perdamaian.

Nama “Pamekasan” sendiri diduga berasal dari kata “pamekas” atau “amek asan” dalam bahasa Madura, yang berarti “tempat berkumpulnya orang.”

Sejak masa lampau, wilayah tersebut memang menjadi pusat aktivitas perdagangan dan pemerintahan.

Menurut catatan Babad Madura, tokoh penting pertama yang berkuasa di wilayah Madura Barat termasuk Pamekasan adalah Adipati Arya Manyar atau Arya Adikara I, pejabat yang diangkat Majapahit sebagai wakil raja di daerah.

Peralihan besar terjadi pada abad ke-16, saat Islam mulai mengakar kuat di Madura.

Di bawah kepemimpinan Ronggosukowati, sistem pemerintahan kerajaan Islam berkembang pesat, dan Pamekasan menjadi salah satu pusat spiritual dan politik penting di Pulau Madura.

Memasuki masa kolonial Belanda, Pamekasan berubah status menjadi regentschap (kabupaten) di bawah kontrol administrasi Hindia Belanda.

Meski berada di bawah tekanan kolonial, semangat religius dan kemandirian masyarakat tetap terjaga, bahkan menjadikan Pamekasan dikenal luas sebagai penghasil tembakau berkualitas tinggi.

Pasca Proklamasi 1945, Pamekasan resmi menjadi bagian dari Negara Kesatuan Republik Indonesia dan masuk dalam struktur pemerintahan Provinsi Jawa Timur.

Sejak itu, pembangunan daerah terus bergulir, menyesuaikan dinamika sosial dan ekonomi nasional.

Melalui Perda Nomor 17 Tahun 2004, pemerintah kabupaten menegaskan kembali dasar historis lahirnya Pamekasan.

Setiap peringatan hari jadi diwarnai tema berbeda, yang mencerminkan capaian pembangunan dan semangat zaman.

Memasuki usia ke-495 tahun, Pamekasan kini bersiap menyongsong setengah milenium sejarahnya.

Pemerintah daerah menegaskan arah pembangunan menuju pemerataan ekonomi, inovasi teknologi, dan pelestarian nilai-nilai budaya Madura yang menjadi kekuatan identitas daerah.

Momentum tersebut menjadi pengingat bahwa Pamekasan bukan hanya warisan sejarah, tetapi juga simbol kebangkitan daerah yang menjunjung tinggi agama, budaya, dan kemajuan.

Hari Jadi ke-495 bukan sekadar angka, tetapi refleksi dari perjalanan panjang menuju Pamekasan yang maju, religius, dan berdaya saing,” demikian pesan simbolik yang menggema di seluruh pelosok Bumi Gerbang Salam. ***

Tinggalkan Balasan

>