BeritaPeristiwa

Penderita DBD Terus Bertambah, Warga Desa Talang Desak Nakes Bertindak Serius

147
Penderita DBD Terus Bertambah, Warga Desa Talang Desak Nakes Bertindak Serius
FOTO: Bambang (kiri) saat besuk penderita demam warga Desa Talang yang opname di Puskesmas Blutoh. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Demam Berdarah Dengue (DBD) kembali menunjukkan tren mengkhawatirkan di Kabupaten Sumenep.

Intensitas hujan yang tinggi membuka ruang subur bagi perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti, sementara respons pemerintah dinilai masih lamban dan reaktif.

DBD tak lagi layak dianggap penyakit musiman biasa. Ancaman senyap itu bergerak cepat, mematikan, dan kerap datang tanpa ampun. Desakan agar pemerintah daerah bertindak lebih agresif pun menguat.

Bambang Supratman, S.H., secara tegas meminta tenaga kesehatan dan Dinas Kesehatan Sumenep tidak bersikap pasif dalam penanganan dan pencegahan DBD.

Ia mendorong agar program fogging atau pengasapan nyamuk dijadikan agenda tahunan wajib setiap musim hujan, tanpa harus menunggu permohonan dari pemerintah desa.

“Fogging itu seharusnya otomatis dilakukan setiap musim hujan. Jangan menunggu ada korban atau surat permohonan dari desa. DBD ini bergerak cepat dan diam-diam mematikan,” tegas Bambang kepada News9.id, Kamis (8/1/2026).

Fogging memang menjadi metode efektif untuk membunuh nyamuk dewasa pembawa virus DBD. Namun Bambang menekankan, langkah tersebut tidak boleh menjadi satu-satunya andalan.

Menurutnya, tanpa pemberantasan sarang nyamuk (PSN), fogging hanya bersifat sementara dan tidak memutus mata rantai penularan.

“Kalau hanya fogging tanpa PSN, itu sama saja memotong ranting tapi membiarkan akar hidup. Jentik tetap berkembang, dan DBD akan terus berulang,” ujarnya lugas.

Keprihatinan Bambang bukan sekadar retorika. Dia mengaku bagian dari keluarga korban DBD.

Bahkan, setelah berkoordinasi dengan sejumlah desa di Kecamatan Saronggi, terungkap fakta mencemaskan sekitar 70 persen desa melaporkan warganya terjangkit DBD sepanjang musim hujan ini.

“Kami bersyukur banyak yang tertolong. Tapi bagaimana dengan yang tidak tertolong? Ini penyakit yang sangat jahat. Bahkan sebagian dokter menyebut DBD bisa lebih berbahaya dari COVID-19 jika terlambat ditangani,” tandasnya.

DBD dikenal menyerang secara tiba-tiba dengan gejala demam tinggi hingga 40 derajat Celsius, nyeri otot dan sendi, sakit kepala hebat, mual, hingga muntah.

Tanpa penanganan cepat dan tepat, kata Bambang, kondisi penderita dapat memburuk drastis hingga berujung kematian.

Bambang mendesak pemerintah daerah agar tidak berhenti pada imbauan normatif semata.

Dia meminta langkah nyata, terukur, dan berkelanjutan melalui penguatan PSN dengan metode 3M Plus, yakni menguras, menutup, mendaur ulang, serta mencegah gigitan nyamuk.

“Dengan curah hujan yang masih tinggi, DBD adalah ancaman nyata yang menuntut respons luar biasa, cepat, dan terencana. Pemerintah ditantang untuk hadir sebelum korban terus berjatuhan, bukan sekadar bergerak setelah tragedi terjadi,” tandasnya. ***

Exit mobile version