BeritaPeristiwa

Puluhan Siswa SDN 1 Demangan Diduga Alami Keracunan MBG, Penyelidikan Masih Berlangsung

45
Puluhan Siswa SDN 1 Demangan Diduga Alami Keracunan MBG, Penyelidikan Masih Berlangsung
FOTO: Guru dan tenaga kesehatan saat mengevakuasi siswa ke UGD Puskesmas Demangan. @by_News9.id

MADIUN, NEWS9 – Sebanyak 18 siswa SDN 1 Demangan, Kecamatan Taman, Kota Madiun, dilaporkan mengalami gejala yang mengarah pada dugaan keracunan makanan setelah mengonsumsi menu dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG), Kamis (16/4/2026).

Para siswa, yang mayoritas berasal dari kelas 4, mendadak mengeluhkan pusing, mual, hingga sesak napas tak lama setelah menyantap hidangan berupa ikan dori dan capcay.

Sejumlah siswa mengungkapkan adanya kejanggalan pada cita rasa makanan, khususnya pada menu sayur.

“Lauknya dori, tapi sayurnya terasa kecut (asam),” ujar salah satu siswa, Zaman Barley, menggambarkan kondisi makanan sebelum munculnya gejala.

Kejadian tersebut sempat memicu kepanikan di lingkungan sekolah. Pihak sekolah bersama tenaga kesehatan segera melakukan langkah cepat dengan mengevakuasi siswa terdampak ke UGD Puskesmas Demangan.

Namun, keterbatasan kapasitas pelayanan membuat sebagian siswa harus dirujuk ke RSUD Kota Madiun di wilayah Sogaten, Kecamatan Manguharjo, untuk penanganan lebih lanjut.

Petugas surveilans Dinas Kesehatan Kota Madiun, Dhia Irfan, membenarkan adanya insiden tersebut.

Ia menyatakan bahwa gejala yang dialami para siswa memiliki kemiripan dengan kasus keracunan makanan, meski belum dapat dipastikan penyebab pastinya.

“Keluhannya pusing dan mual. Saat ini kondisi mereka relatif stabil setelah mendapatkan penanganan awal, namun tetap dalam pemantauan,” ujarnya.

Dinas Kesehatan menegaskan bahwa proses investigasi masih berlangsung. Sampel makanan yang dikonsumsi siswa telah diamankan dan akan diuji di laboratorium di Surabaya guna memastikan sumber kontaminasi.

Otoritas terkait juga membuka kemungkinan adanya faktor lain di luar menu MBG yang turut berkontribusi terhadap kejadian tersebut.

Peristiwa tersebut menjadi pengingat pentingnya pengawasan ketat terhadap kualitas, higienitas, dan distribusi makanan dalam program pemenuhan gizi di lingkungan sekolah.

Di sisi lain, publik diimbau untuk menunggu hasil uji laboratorium sebelum menarik kesimpulan, guna menghindari spekulasi yang berpotensi menyesatkan. ***

Exit mobile version