BeritaHukrim

Selain Empat Bandar Narkoba, Warga Bongkar Pendatang Baru di Masalembu

209
×

Selain Empat Bandar Narkoba, Warga Bongkar Pendatang Baru di Masalembu

Sebarkan artikel ini
Selain Empat Bandar Narkoba, Warga Bongkar Pendatang Baru di Masalembu
FOTO: (ilustrasi) Sejumlah nama inisial HL, A, P, S, dan DM (bandar baru) dari jaringan yang diduga menjadi aktor utama di Masalembu. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Peredaran narkoba di Kecamatan Masalembu, Kabupaten Sumenep, Madura, kini muncul bandar baru.

Munculnya bandar-bandar baru berinisial DM yang diduga beroperasi di Dusun Gunung, Desa Sukajeruk.

Keberadaan pemain baru tersebut dinilai menjadi bukti nyata bahwa peredaran narkoba di wilayah kepulauan memang sengaja dibiarkan dan semakin tidak terkendali.

“Sekarang ada bandar baru lagi di Sukajeruk, Dusun Gunung, inisial DM. Saking bebasnya narkoba di Masalembu, remaja juga sudah berani menjual,” ungkap RD, Selasa (7/4/2026).

Menurutnya, hingga saat ini belum terlihat langkah tegas dari aparat kepolisian untuk memutus rantai peredaran narkotika.

Kondisi tersebut memunculkan dugaan kuat adanya unsur pembiaran yang justru memperkuat jaringan para bandar.

“Kalau dibiarkan terus, ini sama saja memberi ruang bagi para perusak generasi muda untuk berkembang. Ini sangat berbahaya,” tegasnya.

RD menyebut para bandar narkoba di Masalembu diduga memiliki kekuatan tertentu, bahkan mengarah pada indikasi adanya praktik setoran kepada oknum aparat setiap kali barang masuk ke wilayah tersebut.

“Bandar di Masalembu ini orang-orang kuat. Ada dugaan setoran ke oknum saat barang masuk,” ujarnya.

Sejumlah nama seperti HL, A, P, S, dan DM (bandar baru) disebut-sebut sebagai bagian dari jaringan yang diduga menjadi aktor utama dalam peredaran narkoba di kawasan itu. Namun, hingga kini mereka dinilai belum tersentuh hukum.

Masyarakat juga mempertanyakan keseriusan aparat, khususnya Kapolsek Masalembu, Ipda Asnan, dalam menangani persoalan yang kian merusak moral generasi muda.

“Ini bukan lagi tanda tanya kecil, tapi besar. Kalau bandar tidak disentuh, sebenarnya siapa yang dilindungi, ” kata RD dengan nada keras.

Kondisi tersebut disebut sebagai tamparan telak bagi wajah penegakan hukum di wilayah kepulauan.

Masyarakat menilai aparat yang digaji dari uang rakyat seharusnya hadir untuk melindungi, bukan justru diam di tengah ancaman serius terhadap masa depan anak-anak mereka.

“Ini bukan sekadar kritik. Ini tamparan keras. Kalau aparat tidak mampu atau tidak mau bertindak, wajar jika kami curiga ada yang tidak beres,” pungkasnya.

Hingga kini dan berita ini diterbitkan lagi, belum ada keterangan resmi dari pihak kepolisian baik Kapolsek Masalebu dan Kapolres Sumenep terkait tudingan tersebut. ***

Tinggalkan Balasan

>