SAMPANG, NEWS9 – Ketiadaan kehadiran negara dalam pemenuhan infrastruktur dasar kembali dipertontonkan di Kabupaten Sampang, Madura, Jawa Timur.
Warga Dusun Tobai, Desa Tobai Barat, Kecamatan Sokobanah, membangun jalan desa secara swadaya dengan memanfaatkan ekonomi digital menggalang dana melalui siaran langsung di aplikasi TikTok.
Pembangunan jalan tersebut digagas oleh dua warga, Nur Hasan Ali Tamam dan Moh Juhri.
Pada bulan ini, keduanya bekerja sama membangun jalan di Dusun Tobai, Desa Tobai Barat, dengan Juhri bertindak sebagai pelaksana lapangan.
Proyek itu merupakan kelanjutan dari inisiatif serupa yang telah mereka lakukan sebulan sebelumnya di Dusun Creccet, Desa Tobai Tengah, wilayah yang juga berada di Kecamatan Sokobanah.
“Sebulan lalu kami bangun jalan di bagian timur Dusun Creccet, Desa Tobai Tengah,” ujar Hasan Ali Tamam kepada News9.id, Selasa,(10/2).
Inisiatif warga ini bermula dari kondisi jalan desa yang rusak parah dan telah lama dikeluhkan masyarakat.
Tak kunjung mendapat perbaikan dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten, warga memilih bergerak sendiri.
Namun, cara yang mereka tempuh terbilang tak lazim yakni memanfaatkan fitur live streaming TikTok untuk menggalang “saweran” dari warganet.
Dalam sejumlah video siaran langsung yang beredar, tampak warga bekerja memperbaiki jalan sambil menyiarkan prosesnya secara real time.
Warganet yang menonton dapat mengirimkan “gift” digital yang kemudian dikonversi menjadi uang, sebagai bentuk dukungan.
Antusiasme terlihat tinggi, baik dari warga di lokasi maupun dari penonton daring.
Menurut Hasan, live streaming dilakukan secara terjadwal, tiga kali sehari pagi, siang, dan malam, demi menjaga konsistensi penggalangan dana.
Bahkan, beberapa warga ikut menari atau berinteraksi aktif dengan penonton ketika gift berdatangan, sebagai bentuk apresiasi.
Strategi tersebut terbukti efektif. Sekitar 70 persen dana pembangunan jalan berasal dari gift TikTok, sementara sisanya diperoleh dari sumbangan sukarela warga sekitar.
“Pembangunan jalan ini murni dari dua sumber itu,” kata Hasan.
Ia menegaskan, hingga kini tidak ada campur tangan pemerintah dalam proyek tersebut.
“Belum ada bantuan dari pemerintah desa maupun pemerintah kabupaten,” ujarnya.
Fenomena ini menunjukkan dua sisi mata uang dari ekonomi digital.
Di satu sisi, platform digital seperti TikTok membuka ruang partisipasi publik dan solidaritas lintas wilayah.
Warganet yang tidak memiliki keterikatan langsung dengan desa tersebut tetap dapat berkontribusi secara nyata.
Di sisi lain, keberhasilan warga mengandalkan saweran digital untuk membangun infrastruktur dasar justru menampar wajah pemerintah yang kurang responsif.
Jalan desa adalah kebutuhan mendasar yang seharusnya menjadi tanggung jawab negara, bukan diserahkan pada kreativitas warga atau belas kasih algoritma media sosial.
Ketika masyarakat harus menari di depan kamera demi menutup lubang jalan, pertanyaan mendasarnya bukan pada keunikan aksinya, melainkan pada kegagalan tata kelola pembangunan.
Apa yang terjadi di Sokobanah menjadi potret bagaimana ekonomi digital kini bukan hanya menjadi alat hiburan, tetapi juga penyangga darurat bagi layanan publik yang tak kunjung hadir.
Sebuah inovasi warga yang patut diapresiasi, sekaligus alarm keras bagi pembuat kebijakan. ***













>