BeritaDaerah

Ulama Sampang Minta Konser Amal Direvisi, Khawatirkan Campur Baur

146
×

Ulama Sampang Minta Konser Amal Direvisi, Khawatirkan Campur Baur

Sebarkan artikel ini
Ulama Sampang Minta Konser Amal Direvisi, Khawatirkan Campur Baur
FOTO: Para ulama saat audiensi bersama DPRD Sampang menyampaikan sejumlah catatan krusial terkait potensi dampak sosial dan keagamaan. @by_News9.id

SAMPANG, NEWS9 – Rencana konser amal bertajuk “Satu Irama Peduli Nusantara” yang menghadirkan Valen, finalis Dangdut Academy 7, mendapat perhatian serius dari kalangan ulama di Kabupaten Sampang, Jawa Timur.

Dalam audiensi bersama DPRD Sampang pada Selasa (3/2), para ulama menyampaikan sejumlah catatan krusial terkait potensi dampak sosial dan keagamaan dari kegiatan tersebut.

Audiensi digelar sebagai respons atas rencana pelaksanaan konser yang dinilai berdekatan dengan bulan suci Ramadan dan bertepatan dengan peringatan Hari Valentine.

Ulama menilai momentum tersebut memiliki sensitivitas sosial dan religius yang perlu dikelola secara hati-hati agar tidak menimbulkan kegaduhan di masyarakat.

Juru bicara perwakilan ulama Sampang, Habib Abdurahman, menegaskan bahwa substansi keberatan tidak diarahkan pada figur pengisi acara, melainkan pada konsep penyelenggaraan.

Salah satu poin utama yang disoroti adalah potensi terjadinya campur baur antara penonton laki-laki dan perempuan yang dianggap bertentangan dengan norma keagamaan setempat.

“Persoalannya bukan pada siapa yang tampil, tetapi pada kemungkinan terjadinya pelanggaran nilai agama, terutama campur baur penonton,” ujar Habib Abdurahman dalam audiensi tersebut.

Selain aspek teknis pelaksanaan, waktu penyelenggaraan juga menjadi sorotan.

Ulama menilai fase menjelang Ramadan idealnya diisi dengan kegiatan yang mendorong persiapan spiritual masyarakat.

Dalam konteks tersebut, konser hiburan dinilai berisiko menimbulkan mudarat apabila tidak disesuaikan dengan nilai lokal.

Habib Abdurahman juga mengaitkan waktu konser dengan Hari Valentine yang, menurutnya, kerap diasosiasikan dengan perilaku pergaulan bebas di kalangan remaja.

Kekhawatiran tersebut dinilai relevan mengingat potensi dampak jangka panjang terhadap tatanan sosial masyarakat.

Sebagai jalan tengah, ulama mengusulkan penyesuaian konsep acara menjadi lebih religius, seperti kegiatan salawat atau dakwah musikal.

Usulan ini dimaksudkan agar tujuan sosial konser tetap tercapai tanpa mengabaikan norma agama.

“Kami tidak menolak seni dan tidak menolak Valen tampil. Yang kami dorong adalah penyesuaian konsep agar tetap dalam koridor dakwah,” katanya.

Ulama juga mengingatkan bahwa keputusan terkait konser ini berpotensi menjadi preseden bagi penyelenggaraan acara serupa di wilayah lain.

Oleh karena itu, mereka meminta kehati-hatian agar tidak memicu polemik lanjutan di tengah masyarakat.

Meski demikian, audiensi tersebut belum menghasilkan keputusan final.

Seluruh pihak sepakat untuk melanjutkan musyawarah guna mencari formulasi terbaik yang dapat diterima semua pihak.

“Belum ada keputusan akhir. Musyawarah lanjutan akan dilakukan,” ujar Habib Abdurahman, seraya berharap situasi tetap kondusif.

Sementara, Zakaria selaku perwakilan tim organizer menegaskan bahwa tidak ada penolakan terhadap penampilan Valen.

Menurutnya, ulama hanya memberikan masukan agar konsep konser disesuaikan dengan norma yang berlaku di Sampang.

“Tidak ada penolakan terhadap artis. Ini murni masukan konsep, dan kami siap menindaklanjutinya,” kata Zakaria.

Panitia memastikan akan mengkaji seluruh masukan yang disampaikan guna memastikan kegiatan amal tersebut tetap berjalan dengan memperhatikan sensitivitas sosial, budaya, dan keagamaan masyarakat setempat. ***

Tinggalkan Balasan

>