SUMENEP, News9 – Warga Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, tengah dirundung kekhawatiran akibat wabah penyakit yang menyerang hewan ternak sapi.
Dalam beberapa bulan terakhir, puluhan sapi mati mendadak tanpa gejala yang jelas, sementara ratusan lainnya dilaporkan terdampak.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep, Chainur Rasyid, menyebutkan bahwa hingga kini tercatat 150 ekor sapi telah terjangkit penyakit tersebut.
Wabah ini tersebar di sejumlah kecamatan seperti Pasongsongan, Batuputih, dan Rubaru.
“Gejala awal biasanya berupa demam tinggi dan kembung atau tympani, yang diduga akibat konsumsi rumput muda kaya gas. Kami mengimbau warga untuk melayukan rumput sebelum diberikan kepada sapi,” ujar Chainur pada Selasa (31/12/2024).
Meski serius, Chainur menegaskan bahwa situasi ini belum dikategorikan sebagai Kejadian Luar Biasa (KLB).
Para peternak pun merasakan dampak yang signifikan. Imam Syafi’i, anggota kelompok tani di Desa Montorna, Kecamatan Pasongsongan, mengaku khawatir dengan kondisi ini.
Ia menyebut wabah tersebut telah menyebabkan sebagian besar ternaknya mati.
“Sekarang tinggal sekitar 10 persen dari jumlah sapi yang ada. Kami bahkan tidak tahu pasti apa penyebab kematiannya. Saya berharap pemerintah segera menyelidiki dan mencegah penyebaran lebih lanjut,” keluh Imam saat mendatangi Kantor DKPP Sumenep.
Bagi petani, sapi merupakan aset penting yang menopang perekonomian mereka. Imam mendesak pemerintah untuk segera mencari solusi agar kerugian tidak semakin besar.
Menanggapi situasi ini, Bupati Sumenep Achmad Fauzi Wongsojudo memastikan pemerintah daerah telah mengambil langkah cepat.
Investigasi menyeluruh telah diperintahkan untuk mengetahui penyebab pasti kematian sapi.
“Saya sudah meminta dilakukan assessment, apakah terkait penyakit PMK (Penyakit Mulut dan Kuku) atau faktor lain. Pada 2 Januari 2025, saya akan turun langsung ke lokasi untuk berdialog dengan para peternak,” tegas Bupati Fauzi melalui sambungan telepon.
Sebagai langkah awal, tim medis khusus hewan telah dikerahkan ke lapangan untuk mencegah penyebaran lebih lanjut.
Pemerintah juga mengimbau warga mematuhi arahan dalam pemberian pakan hingga hasil investigasi resmi diumumkan.
“Semua langkah telah kami siapkan untuk memastikan wabah ini tidak meluas. Saya berharap warga bekerja sama dalam menjaga kesehatan ternaknya,” tutup Fauzi.
Pemerintah dan warga kini menanti hasil investigasi serta solusi yang dapat mengakhiri wabah ini, demi menjaga keberlanjutan ekonomi para peternak. ***
