BeritaPeristiwa

Warga Jungkarang Kecewa, Nanas Mentah dari Dapur SPPG Berakhir Jadi Pakan Kambing

159
×

Warga Jungkarang Kecewa, Nanas Mentah dari Dapur SPPG Berakhir Jadi Pakan Kambing

Sebarkan artikel ini
Warga Jungkarang Kecewa, Nanas Mentah dari Dapur SPPG Berakhir Jadi Pakan Kambing
FOTO: Menu buah nanas yang disajikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Darun Najah. @by_News9.id

SAMPANG, NEWS9 – Warga Desa Jungkarang, Kecamatan Jrengik, Sampang, dibuat geram oleh menu buah nanas yang disajikan dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Darun Najah kepada murid sekolah dasar.

Nanas yang dinilai masih muda dan tak layak konsumsi itu dikumpulkan warga dan, sehari kemudian, Jumat, (27/2), diberikan kepada hewan ternak kambing.

Aksi tersebut, menurut warga, merupakan bentuk kekecewaan atas kualitas menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disalurkan kepada anak-anak.

“Daripada dimakan takut gatal lidahnya, mending kami kasih ke kambing daripada terbuang sia-sia. Alhamdulillah, jadi pemenuhan gizi untuk ternak,” ujar seorang orang tua murid kepada News9.id Jumat, (27/2).

Peristiwa itu bermula saat murid SD di Desa Jungkarang menerima paket menu dari dapur SPPG Darun Najah pada Kamis (26/2).

Di dalamnya terdapat satu buah nanas utuh yang, menurut sejumlah orang tua, masih muda dan berpotensi menimbulkan rasa gatal di lidah jika dikonsumsi anak.

Para orang tua murid menilai penyajian buah tersebut tidak mempertimbangkan aspek kelayakan konsumsi bagi anak-anak.

“Kami kecewa. Ini untuk anak-anak sekolah dasar. Harusnya diperhatikan betul kualitas dan kelayakannya,” kata seorang wali murid lainnya.

Menurut mereka, kualitas bahan pangan bukan sekadar soal rasa, tetapi juga menyangkut keamanan dan kecukupan gizi. Apalagi program MBG bertujuan mendukung pemenuhan nutrisi anak usia dini dan sekolah dasar.

Kekecewaan warga tak berhenti pada kualitas buah. Mereka juga menyoroti alokasi anggaran per porsi yang dinilai tak sebanding dengan menu yang diterima siswa.

Seorang warga menyebutkan bahwa anggaran untuk anak PAUD hingga kelas 3 SD disebut mencapai Rp 8.000 per porsi per hari. Jika dikalkulasi selama tiga hari, nilainya sekitar Rp 24.000 per anak.

“Katanya anggarannya Rp 8 ribu per porsi. Kalau tiga hari berarti Rp 24 ribu. Masak hanya dapat susu kotak dan nanas sampai Rp 24 ribu, beli di mana?” ujarnya.

Warga mempertanyakan transparansi dan komposisi belanja bahan makanan. Mereka menduga ada ketidaksesuaian antara nilai alokasi yang ditetapkan dan kualitas menu yang disajikan.

“Bukan sekali dua kali dapur ini menyajikan menu yang ugal-ugalan tanpa melihat nilai gizinya,” kata wali murid tersebut.

Para orang tua berharap ada evaluasi menyeluruh terhadap mekanisme pengadaan bahan, pengolahan, hingga distribusi makanan.

Mereka menegaskan bahwa program pemenuhan gizi seharusnya menjadi instrumen peningkatan kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak, bukan sekadar menggugurkan kewajiban administratif.

“Kalau memang untuk anak-anak, ya harus serius. Jangan sampai yang seharusnya bergizi malah jadi bahan candaan, atau lebih cocok untuk kambing,” ujar seorang warga, menutup percakapan dengan nada getir.

Sementara Korwil BGN Kabupaten Sampang Ratna Nur Handayani, saat di konfirmasi News9.id melalui sambungan WhatsApp (WA) tidak di jawab, hingga berita ini terbit. ***

Tinggalkan Balasan