Debat Advokat: Gengsi Hukum, dan Goyangan Etika

- Editorial Team

Sabtu, 12 Juli 2025 - 13:51 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Fauzi AS, aktivis senior Sumenep sekaligus pemerhati kebijakan publik. @by_News9.id

FOTO: Fauzi AS, aktivis senior Sumenep sekaligus pemerhati kebijakan publik. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Akhirnya, dua jagoan hukum dari Sumenep mau juga naik ring. Tapi tenang, ini bukan ring perkara rebutan klien kaya atau sidang warisan sawah sengketa. Ini ring debat, yang katanya intelektual, yang katanya tentang Etika Profesi & Advokat.

Kita patut senang, setidaknya kali ini pengacara ngadu mulut bukan untuk membela klien yang basah amplopnya, tapi untuk saling menunjukkan siapa yang lebih paham soal moral.

Luar biasa. Sebab belakangan ini, banyak yang bingung: sebenarnya yang dibela pengacara itu apa? Klien? Uang? Atau mungkin… rekening pribadi?

Mari kita jujur, profesi advokat ini punya reputasi aneh. Di satu sisi disebut penegak hukum. Di sisi lain, kadang sering tampil sebagai oknum penyambung lidah kejahatan yang punya dana.

Kadang ada oknum pakai toga, bukan jubah super hero. Tapi kalau bicara di media, bisa mengalahkan aktor FTV.

Baca Juga:  Sang Surya Muhammadiyah Tumbangkan Tuan Rumah di Bupati Cup 2026

Tegas. Dramatis. Bahkan kadang lebih meyakinkan daripada vonis pengadilan itu sendiri.

Advokat: Dulu Pembela, Kini Banyak Jadi Oknum Pelaku Tafsir

Dulu pengacara dikenal sebagai advocatus, orang yang dipanggil untuk membela mereka yang tak punya suara.

Kini, banyak oknum pengacara yang di tangkap, mungkin konsekuensi dipanggil untuk membela siapa pun… yang punya saldo cukup.

Dulu Cicero bilang “Salus populi suprema lex esto” keselamatan rakyat adalah hukum tertinggi.

Sekarang? Mereka yang sudah ditangkap mungkin menganut “Salus dompeti suprema lex” Keselamatan Isi Dompet Adalah Hukum Tertinggi.

Dan parahnya, kalau kalah, tinggal bilang: “Saya hanya menjalankan tugas profesi.”

Baca Juga:  Video Viral Rofiq Asmi: Kritik Pedas Bupati Banyuwangi, DPRD, dan Catut Nama PDI Perjuangan-Golkar

Maka bagi saya debat ini penting. Bukan untuk mencari siapa yang lebih pintar. Tapi untuk mengingatkan publik: bahwa pengacara bukanlah Tuhan.

Tapi tolong, juga jangan jadi oknum makelar hukum. Pertanyaan Tajam dari Warga Biasa yang Tak Punya Kuasa

Tema: Hukum, Moral, dan Dagang Etika

• Apakah pengacara boleh membela siapa saja, asal bayarannya cukup untuk DP rumah baru?

• Apakah pengacara yang meminta kliennya untuk menyuap masih bisa disebut advokat?

• Etiskah kalau pengacara juga main medsos untuk membela klien, sambil endorse kopi dan hotel?

• Hari ini, lebih banyak pengacara membela keadilan… atau membela karirnya sendiri?

• Apakah masyarakat boleh tahu integritas pengacara? atau cukup lihat dari merek mobilnya saja?

Hukum Tidak Pernah Buta, Hanya Sering Tutup Mata

Baca Juga:  Kodim 0821/Lumajang Laksanakan Apel Penyerahan Kaporlap dari KASAD

Jangan-jangan selama ini kita salah paham. Mungkin bukan hukum yang cacat. Tapi sistemnya yang dirawat oleh aktor-aktor yang terlalu cinta kenyamanan.

Termasuk sebagian pengacara, yang lebih suka disebut “konsultan strategi bebas jerat hukum” ketimbang pejuang nilai.

Kalau debat ini memang jujur dan bukan drama panggung, maka biarkan mereka bicara: tentang yang kotor, bukan yang normatif. Tentang yang nyata, bukan hanya yang tertulis dalam brosur organisasi profesi.

Hari ini, publik bukan ingin tahu teori hukum. Tapi ingin tahu, siapa pengacara yang berjuang dan siapa yang hanya berburu uang.

Saya yakin acara ini akan lebih mengedukasi jika kedua belah pihak mengundang semua mantan klien mereka masing-masing untuk memberikan testimoni. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji
Warga Langsar Laok Mulai Krisis Air Bersih, Bupati Fauzi Turun Tangan
Trotoar dan Bahu Jalan Jadi Lapak PKL, Tata Kota Sumenep yang Gagal Menata
BLT-DD Desa Kranggan Disalurkan kepada 15 Keluarga Penerima Manfaat
AMBB Dukung Gagasan Nazali Lempo: Hukum Tegak, Nelayan Sejahtera
Hosnan Targetkan AMP Sapudi dan Jalan Beton Raas Mulai 2027
Pesan Wartawan Senior Ibnu Hajar di Forum PWRI Sumenep
Siswi SMP Integral Luqman Al-Hakim Sumenep Borong 5 Medali di Kompetisi Nasional
Berita ini 7 kali dibaca

Berita Terkait

Senin, 12 Oktober 2026 - 15:33 WIB

IWB Tagih Ketegasan DPP Gerindra: Sumpah Jabatan Jangan Hanya Sakral Saat Pelantikan, Lalu Dilupakan Saat Kekuasaan Diuji

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:54 WIB

Warga Langsar Laok Mulai Krisis Air Bersih, Bupati Fauzi Turun Tangan

Rabu, 7 Oktober 2026 - 16:25 WIB

Trotoar dan Bahu Jalan Jadi Lapak PKL, Tata Kota Sumenep yang Gagal Menata

Rabu, 7 Oktober 2026 - 13:22 WIB

BLT-DD Desa Kranggan Disalurkan kepada 15 Keluarga Penerima Manfaat

Kamis, 1 Oktober 2026 - 11:27 WIB

AMBB Dukung Gagasan Nazali Lempo: Hukum Tegak, Nelayan Sejahtera

Berita Terbaru

FOTO: Lokasi Proses Exekusi tanah. @by_News9.id

PERISTIWA

Proses Eksekusi Tanah di Paiton Diwarnai Penolakan

Selasa, 13 Okt 2026 - 10:34 WIB

FOTO: Sulaisi Abdurrazaq, S.H.I., M.I.P., selaku kuasa hukum Mahyuni. @by_News9.id

HUKRIM

Kasus Pohon Siwalan, Tak Ditahan Meski Jadi Tersangka

Sabtu, 10 Okt 2026 - 12:51 WIB