Tambal Sulam Dipaksakan Saat Hujan, Proyek Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur di Banyuwangi Tuai Sorotan

- Redaktur

Rabu, 25 Februari 2026 - 14:44 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

FOTO: Proyek tambal sulam (patching) jalan provinsi di ruas Jalan Raya Jember, @by_News9.id

FOTO: Proyek tambal sulam (patching) jalan provinsi di ruas Jalan Raya Jember, @by_News9.id

BANYUWANGI, NEWS9 – Pelaksanaan proyek tambal sulam (patching) jalan provinsi di ruas Jalan Raya Jember, Desa Setail, Kecamatan Genteng, Kabupaten Banyuwangi menuai kritik tajam.

Pekerjaan yang merupakan kewenangan Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur itu diduga tetap dipaksakan berlangsung meski hujan turun dan permukaan jalan dalam kondisi basah serta tergenang.

Rekaman video yang beredar luas di media sosial memperlihatkan pekerja menghampar aspal panas (hotmix) tanpa terlihat proses pengeringan permukaan maupun penyemprotan lapisan perekat (tack coat).

Video tersebut direkam Rabu (25/2/2026) oleh akun TikTok @PasopatiJatim saat melintas di lokasi.

Pemilik akun, Dofir, menyampaikan kritik keras atas pelaksanaan pekerjaan tersebut.

“Ini bukan soal cepat atau lambatnya perbaikan. Tapi soal kualitas dan tanggung jawab anggaran. Air adalah musuh utama aspal. Kalau dipaksakan saat hujan, daya rekatnya pasti lemah dan berisiko cepat rusak lagi,” tegas Dofir kepada media ini, Rabu (25/2/2026).

Secara teknis, penghamparan aspal panas idealnya dilakukan pada permukaan yang kering, bersih, dan stabil. Air yang terjebak di antara lapisan lama dan baru berpotensi menyebabkan kegagalan adhesi, retak dini, hingga pengelupasan dalam waktu singkat.

Baca Juga:  Diduga Langgar UU Ketenagakerjaan, PT Permata Finance Indonesia Cabang Madiun Keluarkan Karyawan Tanpa Surat Resmi

Arbain Pengamat konstruksi jalan menilai praktik tersebut berpotensi melanggar spesifikasi teknis pekerjaan pemeliharaan jalan.

“Dalam standar pekerjaan Bina Marga, kondisi cuaca menjadi faktor krusial. Bila tetap dikerjakan saat hujan tanpa perlakuan teknis yang memadai, itu berisiko tidak memenuhi spesifikasi kontrak. Kalau mutu tidak tercapai, seharusnya ada konsekuensi evaluasi bahkan pembongkaran ulang,” ujarnya.

Ia juga menambahkan bahwa pekerjaan tambal sulam yang gagal mutu bukan hanya persoalan teknis, melainkan berimplikasi pada efektivitas penggunaan anggaran daerah.

“Proyek pemeliharaan jalan provinsi dibiayai melalui APBD Jawa Timur. Jika pekerjaan dilakukan tanpa memenuhi standar teknis, maka potensi pemborosan anggaran menjadi perhatian serius. Kalau tambalan rusak lagi dalam hitungan minggu, lalu diperbaiki lagi dengan anggaran baru, itu namanya pemborosan. Aparat pengawas internal dan DPRD harus turun mengevaluasi. Jangan sampai pola seperti ini dianggap wajar,” katanya.

Dilain pihak,Lsm KPK Nusantara Dpc Banyuwangi berpendapat, transparansi spesifikasi pekerjaan, nilai kontrak, serta masa pemeliharaan wajib dibuka ke publik sebagai bentuk akuntabilitas.

“Adanya UU KIP dan seluruh ketentuan yang di dalam nya sudah sepatutnya di lakukan oleh seluruh, terlebih akan sebuah anggaran yang bersumber dari negera, akan tetapi dalam prakteknya hal tersebut masih sangat minim di lakukan oleh pihak kontraktor, sehingga potensi ada nya sebuah KKN sangat besar terjadi.kami dari Lembaga sendiri masih berusaha melakukan investigasi lebih lanjut,” terang Andik Ketua LSM KPK nusatara Dpc Banuuwangi.

Hingga berita ini diterbitkan, belum ada pernyataan resmi dari pihak Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur terkait alasan teknis tetap dilaksanakannya pekerjaan saat hujan.

”Standar operasional prosedur pelaksanaan patching saat cuaca buruk dan pengawasan lapangan oleh konsultan dan pejabat pembuat komitmen serta jaminan mutu dan masa pemeliharaan pekerjaan merupakan hak masyarakat yang sudah semestinya mereka dapat,” pungkas Arbain.

Di tengah curah hujan tinggi dan meningkatnya mobilitas kendaraan, kualitas jalan provinsi menjadi kebutuhan vital. Jika perbaikan dilakukan tanpa kehati-hatian teknis, yang dipertaruhkan bukan sekadar umur aspal — tetapi juga kredibilitas pengelolaan infrastruktur publik.

Baca Juga:  Tampil Apik Meski Tumbang, Tim Voli Indoor Sumenep Tetap Diganjar Apresiasi

Kasus ini kini menjadi ujian transparansi dan komitmen mutu bagi Dinas PU Bina Marga Provinsi Jawa Timur dalam menjaga kualitas layanan jalan di wilayah Banyuwangi. ***

Facebook Comments Box
Follow WhatsApp Channel news9.id untuk update berita terbaru setiap hari Follow

Berita Terkait

Ari Adriyansah Asal Sampang Lolos ke Babak Berikutnya D’Academy 8
Pelayanan UPT Disdukcapil Masalembu Dinilai Amburadul, Bupati Sumenep Diminta Turun Tangan
Alih Fungsi Lahan Masyarakat Desa Bayu Tanam Pisang di Tengah Jalan
Dua Pemuda Tambelangan Lolos DA8 Indosiar, Klinik Bunda Maharani Kirim Dukungan
Sahwan dari Sampang Melaju ke 50 Besar D’Academy 8, Dukungan Masyarakat Madura Mengalir
Jasad Wanita Muda Ditemukan Tanpa Busana Dikamar Gegerkan Warga
Penyelidikan Tuntas, Polisi Sebut Kematian Pemuda di Probolinggo Bukan Tindak Pidana
Misteri Tewasnya Lima Peserta Latsarmil SPPI, Kemenhan-Kemenkes Turun Tangan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Jumat, 10 Juli 2026 - 03:40 WIB

Ari Adriyansah Asal Sampang Lolos ke Babak Berikutnya D’Academy 8

Minggu, 5 Juli 2026 - 19:08 WIB

Pelayanan UPT Disdukcapil Masalembu Dinilai Amburadul, Bupati Sumenep Diminta Turun Tangan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 19:32 WIB

Alih Fungsi Lahan Masyarakat Desa Bayu Tanam Pisang di Tengah Jalan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 14:54 WIB

Dua Pemuda Tambelangan Lolos DA8 Indosiar, Klinik Bunda Maharani Kirim Dukungan

Sabtu, 4 Juli 2026 - 12:18 WIB

Sahwan dari Sampang Melaju ke 50 Besar D’Academy 8, Dukungan Masyarakat Madura Mengalir

Berita Terbaru

FOTO: (ilustrasi) Karnaval HUT RI di Kecamatan Batang-Batang. @by_News9.id

OPINI

Karnaval Agustusan Apa Untungnya Bagi Negara?

Minggu, 16 Agu 2026 - 15:05 WIB

FOTO: (ilustrasi) massa saat menurunkan bendera Merah Putih, menggantinya dengan bendera Bulan Bintang, @by_News9.id

OPINI

Perlunya Memaafkan Rakyat Aceh (?)

Minggu, 16 Agu 2026 - 14:39 WIB