“Kacamata Aries Widojoko”
OPININEWS9 – Kehadiran Kecerdasan Buatan di tengah tumbuh kembang anak-anak Indonesia ibarat pedang bermata dua.
Saat ini, dampak pada kemampuan berpikir terlihat jelas pada fenomena “budaya instan.” AI menawarkan jawaban cepat yang memanjakan, namun berisiko mematikan critical thinking. Anak-anak yang terbiasa menyalin jawaban AI tanpa proses sintesis akan kehilangan “otot mental” untuk memecahkan hal yang level ‘ecek ecek‘ sampai level berat. Alih-alih memahami proses belajar yang menantang, mereka terjebak hanya mengejar hasil akhir.
Risiko terbesarnya adalah lahirnya generasi yang luas wawasannya, namun dangkal pemahamannya.
Bagaimana dampak pada kemampuan bicara ??, rupanya tak kalah menakutkan.
Indonesia dikenal dengan budaya komunikasi yang kaya konteks, rasa, dan sopan santun, sementara Interaksi dengan AI bersifat transaksional, datar, dan tanpa emosi dapat menumpulkan kepekaan sosial ini.
Anak anak kita di Indonesia berisiko tumbuh menjadi komunikator yang sangat logis secara teknis, namun miskin empati dan sulit membaca situasi emosional lawan bicara di dunia nyata.
Jika hari ini AI menjadi “tongkat penyangga” saat belajar, di masa depan ia bisa menjadi “kursi roda” yang membuat anak enggan berjalan dengan kakinya sendiri. Generasi Emas Indonesia 2045 terancam kehilangan orisinalitas jika hanya menjadi operator mesin, bukan inisiator ide yang ramah dan santun saat bicara.
Pendidikan karakter dan interaksi tatap muka harus diperkuat agar anak-anak kita tetap cerdas bernalar dan santun bertutur, menguasai teknologi tanpa kehilangan jati diri kemanusiaannya.
Jangan diamkan anak anak kita dan ‘menyerahkan’ mereka pada alat, karena dampaknya mungkin bisa membuat para orang tua menangis. ***












