SAMPANG, NEWS9 – Para atlet panjat tebing Kabupaten Sampang terpaksa patungan untuk biaya latihan dan bertanding lantaran nyaris tak mendapat perhatian serta dukungan anggaran dari Komite Olahraga Nasional Indonesia (KONI) setempat.
Ironisnya, Ketua KONI Sampang memilih bungkam saat dikonfirmasi terkait kelalaian fungsi pembinaan tersebut.
Federasi Panjat Tebing Indonesia (FPTI) Kabupaten Sampang tetap memberangkatkan atletnya mengikuti Kejuaraan Provinsi (Kejurprov) I dan II meskipun hubungan komunikasi dengan KONI dinilai tidak harmonis.
Proposal bantuan yang diajukan berkali-kali juga tak kunjung mendapat kepastian tindak lanjut.

Ketua FPTI Sampang, Mahardika Surya Abrianto, disebut tetap konsisten membina atlet muda di tengah keterbatasan fasilitas dan anggaran.
Namun para orang tua atlet mengamati sikap KONI yang selama beberapa tahun terakhir seolah membiarkan cabang olahraga panjat tebing berjalan sendiri tanpa pembinaan serius.
“Kadang anak-anak harus patungan supaya tetap bisa ikut pertandingan. Padahal mereka membawa nama Kabupaten Sampang,” ujar salah satu orang tua atlet, seperti di kutib, Kamis (7/5).
Bahkan, sebagian atlet disebut turut mengumpulkan dana secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan keberangkatan dan perlengkapan tanding.
Padahal, sesuai fungsi utamanya, KONI wajib menjadi pembina dan pengoordinasi olahraga prestasi termasuk bagi cabang panjat tebing yang berpotensi meraih prestasi tinggi.
Sementara ketua KONI Sampang, H. Abdul Wasik, ketika dikonfirmasi News9.id, Kamis (7/5) malam, terkait ketidakpedulian dan kegagalan fungsi pembinaan ini, tidak merespons.
Sikap bungkam justru menjadi tanda tanya besar di tengah harapan para atlet dan orang tua yang ingin semangat mereka tidak padam hanya karena minim dukungan dari lembaga yang seharusnya memayungi. ***













>