BeritaOpini

Bendera One Piece Lebih Jujur dari Merah Putih di Era Prabowo

269
×

Bendera One Piece Lebih Jujur dari Merah Putih di Era Prabowo

Sebarkan artikel ini
FOTO: Janji manis Prabowo-Gibran, pahitnya hidup rakyat. @by_News9.id
FOTO: Janji manis Prabowo-Gibran dan pahitnya hidup rakyat. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-80 Kemerdekaan Republik Indonesia, seharusnya rakyat bersuka cita merayakan kemerdekaan.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan hal sebaliknya. Di banyak daerah, termasuk di Kota Keris, Sumenep, justru berkibar bendera alternatif: Jolly Roger dari serial One Piece.

Fenomena ini bukan sekadar guyonan anak muda, melainkan simbol perlawanan. Sebuah kritik sosial yang menyuarakan bahwa “negeri ini tidak sedang baik-baik saja”.

Rakyat merasa terhimpit oleh kebijakan rezim Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka yang dianggap lebih berpihak pada kepentingan elit dan kaum imperialis, sementara rakyat kecil dikorbankan.

Salah satu kebijakan yang dinilai “anti rakyat” adalah pemangkasan anggaran di berbagai sektor akibat membengkaknya defisit fiskal.

Alih-alih menciptakan solusi, kebijakan ini justru melahirkan efek domino, layanan publik terbatas, program kerakyatan terpangkas, dan rakyat semakin kesulitan.

Janji 19 juta lapangan kerja yang digaungkan, hingga kini belum terwujud.

Realitasnya justru sebaliknya, Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) meningkat, pengangguran semakin meluas, dan daya beli masyarakat terus merosot.

Rakyat terjebak dalam pusaran krisis ekonomi yang tak kunjung usai.

Delapan puluh tahun merdeka, rakyat Indonesia masih belum merdeka secara kaffa.

Masih banyak keluarga yang kesulitan sekadar memenuhi kebutuhan dasar, sandang, pangan, dan papan.

Nilai kesetaraan belum nyata dalam kehidupan sehari-hari, sebab negara gagal menghadirkan kesejahteraan yang merata.

Merdeka seakan hanya milik pejabat dan pengusaha yang dekat dengan lingkar kekuasaan.

Sementara itu, rakyat kecil hanya bisa merayakan kemerdekaan dengan doa, sambil berharap bisa sekadar hidup sederhana tanpa kekurangan.

Kemerdekaan sejati seharusnya berarti hadirnya negara dalam kehidupan rakyat, membuka lapangan kerja yang layak, mengurangi kesenjangan, dan menciptakan kesejahteraan merata.

Namun yang terjadi justru sebaliknya, kebijakan elitis yang membuat rakyat semakin jauh dari cita-cita kemerdekaan.

Jika keadaan ini terus berlangsung, maka kemerdekaan hanya menjadi jargon kosong sebuah seremoni tahunan yang penuh parade bendera, tetapi hampa makna di dada rakyat miskin. ***

Tinggalkan Balasan

>