BeritaPolitik

Debat Pilkada Lumajang Kedua: Bunda Indah Kritik Thoriq Soal Pajak Pasir dan Stockpile

265
×

Debat Pilkada Lumajang Kedua: Bunda Indah Kritik Thoriq Soal Pajak Pasir dan Stockpile

Sebarkan artikel ini
Paslon Bupati dan Wakil Bupati No 02, Bunda Indah - Mas Yudha saat debat calon ke 2 di RCC
Foto: Paslon Bupati dan Wakil Bupati No 02, Bunda Indah - Mas Yudha saat debat calon ke 2 di RCC, @by_News9.id

LUMAJANG, News9 – Debat publik kedua Pilkada Lumajang yang digelar Komisi Pemilihan Umum (KPU) di RCC (Rock Convention Center), Rabu (19/11/2024), menjadi ajang adu gagasan antara pasangan calon bupati dan wakil bupati.

Momen panas terjadi saat Cabup nomor urut 2, Indah Amperawati, mengkritik Thoriq, petahana sekaligus Cabup nomor urut 1, terkait isu pajak pasir dan kebijakan stockpile terpadu.

Indah menyoroti bahwa Thoriq belum memberikan jawaban memuaskan terkait dampak kebijakan stockpile terpadu terhadap pendapatan pajak pasir.

Berdasarkan data yang dipaparkannya, pendapatan pajak pasir justru meningkat setelah stockpile terpadu ditutup pada 2024 dibandingkan saat beroperasi pada 2023.

“Agustus hingga Oktober 2023, saat stok pile masih beroperasi, pendapatan pajak pasir tercatat Rp4,69 miliar. Namun, di periode yang sama pada 2024, setelah stcokpile ditutup, pendapatan meningkat menjadi Rp7,75 miliar. Ini selisih yang signifikan, Cak,” ujar Indah.

Indah juga menyoroti dampak sosial dan ekonomi dari kebijakan stockpile terpadu, seperti hilangnya peluang warga menyewakan lahan dan tutupnya warung akibat terganggunya aktivitas ekonomi lokal.

Sementara itu, Thoriq lebih fokus menjelaskan langkah-langkah yang akan diambil ke depan untuk mengatasi masalah perizinan stockpile yang selama ini belum optimal.

Ia mengusulkan sistem berbasis portal dan kartu elektronik untuk mempermudah pembayaran pajak oleh pengusaha stockpile yang tidak berizin.

“Kami ingin mencari solusi dengan pendekatan yang memudahkan para pengusaha untuk melengkapi izin mereka. Namun, semua harus memenuhi syarat, seperti memasang portal dan memiliki tangki air untuk mencegah polusi,” tegas Thoriq.

Perdebatan ini menarik perhatian publik, terutama karena masyarakat Lumajang merasakan langsung dampak negatif dari kebijakan stcokpile di masa lalu.

Dukungan riuh dari kedua kubu pendukung semakin menghidupkan suasana debat yang diharapkan dapat menghasilkan gagasan terbaik untuk Lumajang ke depan. ***

Tinggalkan Balasan

>