BeritaPemerintahan

Desa Tegal Bangsri, Kejayaan Pisang “Pakah Kresek” yang Perlu Aksi Nyata

382
×

Desa Tegal Bangsri, Kejayaan Pisang “Pakah Kresek” yang Perlu Aksi Nyata

Sebarkan artikel ini
Iskhak Subagyo, saat memberikan pengarahan kepada para petani di Ranuyoso
Foto: Iskhak Subagyo, saat memberikan pengarahan kepada para petani di Ranuyoso, @by_News9.id

LUMAJANG, News9 – Desa Tegal Bangsri, Kecamatan Ranuyoso, adalah “Permata Tersembunyi” di Lumajang. Dari desa inilah lahir varietas unggul pisang “Pakah Kresek,” yang menjadi kebanggaan petani lokal.

Dengan daya tahan luar biasa terhadap virus dan hama, serta ciri khas buahnya yang besar dan rapat, varietas ini telah menjadi andalan selama lebih dari 25 tahun. Namun, potensi besar ini belum sepenuhnya dimaksimalkan.

Pisang “Pakah Kresek” saat ini dibudidayakan di Kecamatan Ranuyoso dengan total luas 71 hektare. Sebagian besar, yakni 61 hektare, berada di Desa Tegal Bangsri.

Namun, potensi ini memerlukan dukungan yang lebih konkret, baik dari pemerintah maupun pihak terkait lainnya.

“Kami telah mendampingi petani untuk menjaga kualitas tanaman dan mencegah serangan hama, tetapi pengelolaan lebih lanjut, seperti pemasaran dan pengolahan, harus menjadi perhatian semua pihak,” ujar Iskhak Subagio, tokoh pertanian setempat juga Ketua HKTI Lumajang.

Iskhak juga menyebut pentingnya upaya pendaftaran varietas ini agar tidak diklaim oleh pihak lain.

“Kita tidak bisa membiarkan kekayaan lokal ini diambil begitu saja. Pendaftaran varietas harus dipercepat, dan petani harus didorong untuk menghasilkan benih bersertifikat, baik melalui kultur jaringan maupun teknik lainnya,” tambahnya.

Dengan harga pisang yang tinggi di pasaran, “Pakah Kresek” memiliki potensi besar untuk meningkatkan kesejahteraan petani.

Ketua Kelompok Tani Timur Curah, Suyanto, menegaskan bahwa varietas ini telah menjadi tumpuan hidup para petani di Tegal Bangsri.

“Selama ini, kami bisa menikmati hasil yang cukup memuaskan dari pisang ini. Tapi kalau ingin lebih berkembang, kami butuh dukungan dalam hal pemasaran dan akses ke industri pengolahan,” katanya.

Saat ini, dukungan dari Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Lumajang telah terlihat dalam pendampingan teknis. Namun, upaya ini harus diperluas dengan melibatkan Diskopindag dan pemerintah kabupaten.

“Kami ingin ada ruang pamer khusus untuk pisang ‘Pakah Kresek’ di desa kami. Ini penting agar konsumen dan pembeli besar tahu di mana mereka bisa mendapatkan produk asli Lumajang,” ungkap Kepala Desa Tegal Bangsri, Ahmad Fauzi.

Fauzi juga menambahkan bahwa pemerintah kabupaten perlu membangun industri pengolahan pisang di wilayah utara.

“Kalau Lumajang ingin benar-benar disebut ‘Kota Pisang,’ buktikan dengan tindakan nyata. Bangun industri pengolahan di sini, sehingga nilai tambah dari pisang ini bisa dirasakan langsung oleh petani,” tegasnya.

Pisang “Pakah Kresek” adalah peluang besar bagi Lumajang untuk memperkuat identitasnya sebagai “Kota Pisang.” Namun, peluang ini akan sia-sia jika tidak ada kerja sama nyata dari semua pihak.

“Dengan kerja sama yang solid antara pemerintah, petani, dan pihak swasta, saya yakin pisang ‘Pakah Kresek’ bisa mendunia. Jangan biarkan potensi ini tertidur!” tutup Iskhak Subagio.

Sudah saatnya Lumajang bangkit dan menunjukkan pada dunia bahwa mereka adalah pusat agribisnis sejati. ***

Tinggalkan Balasan

>