BeritaInternasional

Gibran Getarkan G20, Indonesia Minta Aturan Global Tak Berat Sebelah

146
×

Gibran Getarkan G20, Indonesia Minta Aturan Global Tak Berat Sebelah

Sebarkan artikel ini
Gibran Getarkan G20, Indonesia Minta Aturan Global Tak Berat Sebelah
FOTO: Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka mewakili Presiden Prabowo Subianto, tampil agresif menyuarakan kepentingan negara berkembang di G20 Afrika Selatan. @by_News9.id

JAKARTA, NEWS9 – Wakil Presiden RI Gibran Rakabuming Raka menunjukkan taring diplomasi Indonesia pada pembukaan 2025 G20 Johannesburg Summit di Afrika Selatan.

Mewakili Presiden Prabowo Subianto, Gibran tampil agresif menyuarakan kepentingan negara berkembang, menegaskan bahwa arsitektur ekonomi dunia tidak boleh lagi dikendalikan oleh segelintir negara maju.

Dalam pidato pembukaannya, Gibran menyampaikan salam dari Presiden Prabowo kepada Presiden Afrika Selatan Cyril Ramaphosa dan seluruh pemimpin G20.

Ia juga memuji keberhasilan Afrika Selatan yang untuk pertama kalinya menggelar KTT G20 di benua Afrika, simbol kuat bangkitnya kekuatan negara-negara Selatan Global.

“Kami menghargai sambutan hangat serta penyelenggaraan yang sangat baik oleh Pemerintah Afrika Selatan,” ujar Gibran dalam forum internasional tersebut, Jumat (22/11/25).

Pada sesi bertema “Inclusive and Sustainable Economic Growth – Leaving No One Behind“, Wapres Gibran menegaskan komitmen Indonesia di bawah Presiden Prabowo, pertumbuhan global harus tidak hanya cepat, tetapi juga adil dan dapat dinikmati oleh seluruh negara.

Gibran menekan isu klasik yang tidak kunjung selesai yaitu akses pembiayaan global yang timpang.

Ia mengajak seluruh anggota G20 untuk memperluas dan mempermudah pendanaan bagi negara berkembang termasuk pendanaan iklim dan transisi energi yang selama ini kerap terhimpit aturan ketat dan syarat berlapis.

Indonesia, kata Gibran, telah mengalokasikan sekitar USD 2,5 miliar per tahun untuk UMKM hijau, asuransi pertanian, hingga infrastruktur tangguh.

Kebijakan tersebut, menurutnya bisa menjadi contoh bagaimana negara berkembang bisa memperkuat ketahanan ekonomi secara mandiri.

Di bidang inklusi keuangan, Gibran kembali menunjukkan model Indonesia melalui teknologi pembayaran digital seperti QRIS, yang dianggap sebagai solusi sederhana namun efektif dalam memperluas akses layanan finansial hingga pelosok.

Menurutnya, digitalisasi bukan hanya soal teknologi, tapi soal pemerataan kesempatan ekonomi.

Gibran dengan tegas meminta G20 tidak tutup mata terhadap risiko ketimpangan baru akibat aset digital dan kecerdasan buatan (AI).

“Aset digital menghadirkan peluang sekaligus risiko,” tegasnya.

Ia mendesak forum G20 untuk menyusun kerangka kerja bersama agar teknologi-teknologi tersebut tidak malah menciptakan jurang baru antara negara kaya dan miskin.

Gibran menyinggung sikap Indonesia yang menolak adanya model pembangunan tunggal yang dipaksakan oleh negara tertentu.

Kerja sama internasional, menurutnya, harus memberdayakan, bukan menciptakan ketergantungan.

Ia menegaskan bahwa negara berkembang membutuhkan ruang untuk menentukan jalannya sendiri, dan negara maju harus menghormati kedaulatan pembangunan tersebut.

KTT G20 2025 yang untuk pertama kalinya digelar di benua Afrika menjadi panggung simbolis bangkitnya Global South.

Indonesia memanfaatkan momentum itu, menempatkan diri sebagai salah satu pemimpin wacana inklusi finansial, energi, dan teknologi di kalangan negara berkembang.

Melalui penampilan tegas Wapres Gibran, Indonesia mengirim pesan jelas, negara berkembang bukan lagi penonton, melainkan pemain kunci dalam arsitektur ekonomi global. ***

Tinggalkan Balasan

>