BeritaPeristiwa

Harapan Palsu untuk Si Nenek Miskin: Ketika Bantuan Jadi Komoditas

342
×

Harapan Palsu untuk Si Nenek Miskin: Ketika Bantuan Jadi Komoditas

Sebarkan artikel ini
Foto: Si Nenek, yang rumahnya terlanjur dibongkar. Katanya dapat program BSPS. @by_News9.id
Foto: (Ilustrasi) Si Nenek, yang rumahnya terlanjur dibongkar. Katanya dapat program BSPS. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Sebuah video yang diunggah oleh akun TikTok @kanjengbabe69 menampilkan kisah seorang nenek miskin di salah satu desa di Kabupaten Sumenep.

Dalam video tersebut, si nenek tampak bahagia karena mendapat kabar bahwa rumahnya akan dibangun melalui bantuan pemerintah lewat program Bantuan Stimulan Perumahan Swadaya (BSPS).

Karena kabar itu, si nenek meminta sanak saudara untuk membongkar rumahnya. Namun, hari berganti, bulan berlalu, bantuan yang dijanjikan tak kunjung datang.

Merasa gelisah, si nenek menceritakan kekecewaannya kepada sang cucu.

Si cucu pun meneruskan cerita itu kepada seorang aktivis sosial, yang kemudian membagikannya ke sebuah grup WhatsApp demi mencari solusi.

Dalam percakapan di grup tersebut, seorang anggota menyatakan kesediaannya membangun rumah si nenek.

Namun, ada syarat yang mengejutkan sebelum pembangunan dimulai, keluarga si nenek harus menyerahkan uang sebesar Rp 6 juta.

Pernyataan itu pun memicu kemarahan aktivis yang merasa permintaan tersebut tidak manusiawi.

Tidak berhenti di situ, anggota grup tersebut akhirnya menurunkan permintaannya menjadi Rp 5 juta sebagai uang muka.

Aktivis yang merasa geram akhirnya menghubungi langsung orang tersebut untuk mencari kejelasan.

Namun, peristiwa itu mengungkap realitas pahit. Masih ada pihak yang memanfaatkan penderitaan orang miskin untuk kepentingan pribadi.

Kasus ini menjadi gambaran bagaimana bantuan sosial kerap kali disertai kepentingan terselubung.

Ketika seharusnya menjadi harapan bagi mereka yang membutuhkan, bantuan malah berubah menjadi komoditas yang diperjualbelikan.

Si nenek yang awalnya bahagia kini justru terlunta-lunta tanpa rumah dan tanpa kepastian.

@AMR JAYA GROUP, dalam komentarnya menyebutkan bahwa di desanya sampai ditawar-tawarin bedah rumah namun tidak ada yang mau.

“Di desanya smpek ditawar2in bedah rumah tpi gak ada yg mau bukan karena apa tapi banyaan tambahannya dr pda dr bedah rumahnya. Kalo gak punya persiapan uang pribadi sendiri gak mau org2,” keluh salah satu netizen.

Di sisi lain, @Syifa Al Janah, pun mengeluhkan biaya tukang yang bayar sendiri.

“Iya kadang tukang nya bayar sendiri. Padahal skrg kan mahalan tukang nya SM bahan nya,” cetus Netizen

Haruskah bantuan bagi kaum miskin terus dipermainkan seperti ini? ***

Tinggalkan Balasan

>