BeritaDaerahOpini

Jelang Transisi Sekda, Siapa Yang Harus Dipercaya?

410
×

Jelang Transisi Sekda, Siapa Yang Harus Dipercaya?

Sebarkan artikel ini
FOTO: (ilustrasi) Menakar Kepedulian di Tengah Transisi Sekda Sumenep. @by_News9.id
FOTO: (ilustrasi) Menakar kepedulian di tengah transisi Sekda Sumenep. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Judul dari catatan sederhana ini, jika boleh disebut, berawal dari ungkapan sederhana yang saya cantumkan pada paragraf kedua. Ungkapan itu, bagi saya, seperti membawa pertanyaan: kepada siapa kita harus percaya?

Ungkapan itu, kurang lebih seperti ini: Kadang, yang tampak peduli hanyalah penonton. Bukan penyelamat. Maka berhati-hatilah dengan kepedulian, kadang ia membawa beban dan muslihat yang tak tertanggungkan.

Ungkapan awam itu, hemat saya, tidak perlu ditafsiri berlebihan. Kita bisa memaknainya dengan sederhana dan mudah pula kita mempelajarinya.

Yang peduli kepada kita, bisa jadi hanyalah penonton. Jika diumpamakan pertandingan bola, setelah peluit panjang, sebuah kepedulian bisa menjadi sia-sia. Bahkan membebani kita.

Sebagai penonton, mereka punya hak untuk pergi dan meninggalkan kita tanpa basa basi dan mendadak tak peduli.

Hanya saja, jika diingat sebelum peluit panjang dibunyikan, kepedulian itu seperti malaikat yang membawa perlindungan. Tapi, tafsir kita ternyata berlebihan.

Jelang pergantian Sekda, suasana mulai ramai. Banyak yang mendadak lihai berbicara, seolah tahu segalanya, bahkan merasa telah menjadi jurkam salah satu suksesornya.

Padahal, mereka hanyalah penonton, yang berdiri di pinggir arena, tapi ingin tampil seolah di tengah permainan dan seakan menguasainya.

Sebagai orang awam, kita layak khawatir, misalnya, Sekda terpilih malah terjerat “janji-janji politik” yang sebenarnya bukan kehendaknya.

Atau lebih buruk lagi, janji yang dipaksakan oleh suara-suara penonton yang sebenarnya tak punya wewenang, hanya kepentingan. Tentu saja itu membahayakan.

Karenanya, calon Sekda yang tangguh adalah ia yang mampu membedakan kepedulian yang tulus dan yang semu. Tak perlu menggubris suara penonton, semanis apapun.

Sebab kepemimpinan yang sehat lahir dari integritas dan sikap teguh, bukan karena muslihat budi yang harus dibalas.

Biarkan transisi Sekda ini berjalan jernih, transparan, objektif, dan tanpa beban balas jasa. Ketika pemimpin terlalu mudah dihasut oleh tepuk tangan penonton, bisa jadi ia tak punya pendirian.

Oh iya, jika kabar itu benar, bahwa Sekda terpilih Sumenep sudah ada, maka selamat. Salam awam saja.

Ketika pemimpin terlalu mudah dihasut oleh tepuk tangan penonton, bisa jadi ia tak punya pendirian.” ***

Tinggalkan Balasan

2