SUMENEP, NEWS9 – Abrasi pantai di Tanjung Batu, Desa Masalima, Kecamatan Masalembu, bukan lagi ancaman abstrak.
Laut kini nyaris mencium aspal. Jalan raya urat nadi aktivitas warga tinggal hitungan meter dari amukan ombak.
Anggota DPRD Sumenep asal Masalembu, Ahmad Juhairi, dengan tegas menyebut kondisi itu bukan bencana alam, melainkan bencana akibat ulah manusia.
Ia mendesak Dinas Lingkungan Hidup (DLH) bersama kepolisian untuk segera turun tangan melakukan investigasi menyeluruh.
“Ini bukan proses alamiah. Ada kesalahan fatal dalam pembangunan tangkis laut. Proyeknya sembrono, asal jadi, dan dampaknya sangat membahayakan warga,” tegas Juhairi, Kamis (15/1/2026).
Sorotan tajam diarahkan pada proyek tangkis laut berbahan rion beton yang dibangun tanpa konsep perlindungan pantai yang jelas.
Beton-beton itu justru menjulur ke laut, tidak menepi atau melindungi garis pantai sebagaimana fungsi ideal tangkis laut.
Alih-alih menjadi perisai, proyek tersebut justru menciptakan celah. Ombak menghantam area pantai yang tak terjangkau plengsengan dengan kekuatan penuh.
Abrasi pun semakin menggila, menggerus daratan hingga mendekati jalan raya beraspal.
“Rion beton itu seharusnya melindungi, bukan mempercepat kerusakan. Kalau dibangun asal-asalan, akibatnya fatal. Fakta di Tanjung Batu ini bukti nyata,” lanjutnya.
Kini warga Masalembu diliputi kecemasan. Jika abrasi terus dibiarkan, jalan utama desa terancam lumpuh dan bukan sekadar akses terganggu, melainkan potensi terputus total jalan raya berubah menjadi bagian dari laut.
“Kalau ini dibiarkan, bukan hanya pantai yang hilang. Infrastruktur publik lenyap, keselamatan warga dipertaruhkan,” tandas Juhairi. ***
