BeritaEkonomi Daerah

Penjual Kacang Tersingkir di Pasar Minggu Sumenep

132
×

Penjual Kacang Tersingkir di Pasar Minggu Sumenep

Sebarkan artikel ini
Penjual Kacang Tersingkir di Pasar Minggu Sumenep
FOTO: Peorang penjual kacang hanya bisa menatap keramaian dari kejauhan. @by_News9.id

SUMENEP, NEWS9 – Di tengah riuhnya Pasar Minggu di kawasan Taman Bunga, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur, seorang penjual kacang hanya bisa menatap keramaian dari kejauhan.

Dia tidak diberi ruang untuk menggelar dagangan di dalam area pasar yang seharusnya menjadi ruang hidup bagi pelaku usaha kecil.

Setiap hari, demi menghidupi keluarga, pria sederhana itu berangkat dari rumah pukul 05.00 WIB dan berkeliling hingga pukul 17.30 WIB menyusuri sudut-sudut Kota Sumenep.

Dagangannya tidak selalu habis, kacang yang tidak laku terpaksa dibawa pulang.

Harga satu bungkus kacang hanya Rp5.000. Dalam sehari, ia rata-rata mengantongi Rp50.000. Jumlah yang jauh dari kata layak, apalagi di tengah kebutuhan hidup yang kian menekan.

Saat Pasar Minggu dipadati pengunjung, pedagang kecil seperti dirinya justru tidak diberi akses untuk berjualan di dalam area yang ramai. Ia hanya menjadi penonton di kampung sendiri.

Aktivis Sumenep, Burhan, menilai kondisi tersebut sebagai cermin kebijakan yang tidak berpihak pada wong cilik.

“Perkumpulan Perdagangan Pasar Minggu seharusnya menjadi wadah seluruh pelaku usaha mikro kecil. Tapi faktanya, pasar itu dibentuk lebih sebagai objek komersial,” tegas Burhan, Minggu (15/2).

Menurutnya, tidak semua kebijakan Bupati Sumenep benar-benar dirasakan oleh masyarakat kecil, khususnya pelaku usaha mikro.

“Hanya orang-orang tertentu yang menikmati setiap kebijakan pemerintah daerah. Bagi wong cilik, harapan itu terasa sangat jauh,” jelasnya.

Sementara itu, pasar yang semestinya menjadi ruang pemberdayaan ekonomi rakyat kecil kini dipertanyakan arah dan keberpihakannya.

“Jika pedagang kacang saja tak diberi ruang, lalu untuk siapa sesungguhnya pasar itu dibangun. Ketika geliat ekonomi digembar-gemborkan, fakta di lapangan justru menunjukkan jurang yang kian lebar antara kebijakan dan realitas rakyat kecil,” tandasnya. ***

Tinggalkan Balasan

>