SUMENEP, NEWS9 – “Sang Kuda yang Kedinginan” Hamparan tanah dan perbukitan Sumenep dahulu membuat sang kuda terbang riang, melintasi angkasa dengan bebas.
Ia menyaksikan hujan turun, menari-nari di udara sebelum diserap akar pepohonan dan bebatuan, lalu mengalir perlahan menuju samudra.
Sumekar, sang kuda terbang, juga menjadi saksi lahirnya tokoh-tokoh besar dalam sejarah bangsa.
Dari tangan dingin Arya Wiraraja, Majapahit bangkit dan menguasai hampir seperempat dunia.
Lebih dari satu abad lamanya, di bawah para pemimpin terdahulu, Sumekar tak pernah banjir seperti hari ini.
Tatanan ruang, penghijauan, dan sistem drainase dijaga rapi. Namun hari ini, sang kuda meringkuk kedinginan, menemani sang raja ketika air meluap dan membanjiri istana.
Ia hanya terdiam, bertanya dalam hati “Mengapa ini bisa terjadi?”
Dengan lesu, sang kuda terbang menyaksikan pesta musik tontong dan arak-arakan kuda yang diperlombakan.
Di perbukitan, monyet-monyet berkeliaran kehilangan arah. Rumah pohon mereka ditebang, makanan mereka habis dibabat.
Mereka berlarian ke rumah warga, sekadar berteduh dan mencari makan di ladang pertanian.
Sang kuda hanya bisa pasrah. Ia mencoba melapor kepada sang raja, namun raja sibuk bernyanyi karaoke bersama para pembantunya. ***
Ellak Daya: Rabu, 14 Mei 2025












