SUMENEP, News9 – Debat pamungkas Pilkada Sumenep 2024 yang diselenggarakan Komisi Pemilihan Umum (KPU) di Aula Pesantren Uniba, Madura, pada Rabu malam (20/11/2024), menjadi ajang perdebatan visi dan program antara dua pasangan calon (Paslon).
Salah satu topik yang menjadi sorotan adalah wacana pelokalisasian hiburan di wilayah kepulauan Sumenep.
Paslon nomor urut 01, Kiai Ali Fikri dan Kiai Unais Ali Hisyam (Final), menegaskan sikap mereka terhadap hiburan yang dinilai merusak budaya dan moral generasi muda.
“Melokalisir hiburan yang tidak baik adalah langkah untuk melindungi generasi muda dari pengaruh negatif. Jika hiburan itu dianggap penting, maka harus dilokalisasi dengan melibatkan masukan dan kesepakatan bersama dari masyarakat serta para pemangku kepentingan,” ungkap Kiai Ali Fikri saat menjawab pertanyaan dalam debat tersebut.
Ia mengatakan bahwa hiburan yang identik dengan DJ dan budaya hura-hura bisa merusak mentalitas generasi muda.
“Hasrat anak muda harus diarahkan agar tidak menjerumuskan. Kita memiliki sejarah budaya yang religius, dan itu tidak boleh kita gadaikan hanya karena hiburan,” tegasnya.
Saat disinggung soal wacana pemindahan hiburan ke wilayah kepulauan, Kiai Ali Fikri menyebut bahwa Sumenep memiliki banyak pulau kosong yang bisa digunakan.
Namun, keputusan tersebut harus melalui rembuk bersama dengan para tokoh masyarakat, wakil rakyat, dan pihak-pihak terkait lainnya.
“Lebih baik ditiadakan,” ujar Kiai Ali Fikri, menegaskan preferensinya jika kelak ia ditakdirkan menjadi pemimpin Kabupaten Sumenep.
Di sisi lain, Paslon nomor urut 02, Achmad Fauzi, menanggapi isu hiburan dengan pendekatan yang berbeda.
Ia mengklarifikasi kehadirannya dalam acara musik milenial yang sebelumnya sempat dikritik oleh Paslon 01.
“Sebagai bupati, saya adalah milik semua masyarakat Sumenep. Jika ada undangan, saya harus hadir. Namun, yang perlu dilihat adalah apa yang saya sampaikan di sana, bukan sekadar kehadirannya,” ujarnya.
Fauzi menambahkan bahwa pesan moral yang disampaikannya dalam acara tersebut bertujuan untuk menjaga etika generasi muda agar tidak terjerumus pada penyalahgunaan narkoba, alkohol, atau pergaulan bebas.
“Kehadiran saya di acara itu adalah untuk memberikan arahan kepada anak muda agar tetap menjaga kesantunan dan nilai-nilai budaya,” jelasnya.
Debat ini menjadi penutup rangkaian kampanye sebelum masa tenang Pilkada Sumenep 2024.
Masyarakat diharapkan dapat menilai visi, misi, serta program kerja kedua pasangan calon secara bijak sebelum memberikan hak suara pada 27 November mendatang. ***
